UMB Gelar GEN Z SPEAKS: Aware or Controlled?, Hadirkan Pandji hingga Rian Fahardhi
Senin, 06 Juli 2026 - 18:30 WIB
loading...
A
A
A
Sebagai salah satu pembicara utama, Rian Fahardhi membagikan kisah personalnya untuk memotivasi Gen Z agar berani bersuara di ruang digital. Ia mengungkapkan bahwa dahulu dirinya adalah seorang yang tertutup, hingga akhirnya menemukan titik balik pada usia 15 tahun saat duduk di bangku SMA.
“Dulu saya sadar punya kelemahan bicara di depan banyak orang. Akhirnya, saya mencari medium lain yang bisa saya perjuangkan, yaitu menulis. Kemampuan berdiam diri dan menulis itu menjadi senjata favorit saya untuk menuangkan ide-ide pikiran, hingga terlatih ikut berbagai lomba kepenulisan,” ujarnya. Baca juga: Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
Berangkat dari kecintaan pada literasi digital tersebut, kreator konten yang dikenal vokal ini menilai bahwa esensi utama sebuah konten di era sekarang bukan lagi sekadar mengejar angka viral.
“Konten yang menarik buat saya itu bukan sekadar viral atau ramai, tapi harus membekas dan meninggalkan dampak nyata. Contohnya lewat movement Sekolah Tanah Air yang kami bangun. Berawal dari konten digital yang memviralkan fasilitas bangku dan meja sekolah yang rusak, akhirnya tempat tersebut direvitalisasi dan diperbaiki. Kita harus bisa membuat konten yang mampu memperbaiki hidup seseorang,” tegasnya.
“Dulu saya sadar punya kelemahan bicara di depan banyak orang. Akhirnya, saya mencari medium lain yang bisa saya perjuangkan, yaitu menulis. Kemampuan berdiam diri dan menulis itu menjadi senjata favorit saya untuk menuangkan ide-ide pikiran, hingga terlatih ikut berbagai lomba kepenulisan,” ujarnya. Baca juga: Slopaganda: Propaganda Massal di Era AI
Berangkat dari kecintaan pada literasi digital tersebut, kreator konten yang dikenal vokal ini menilai bahwa esensi utama sebuah konten di era sekarang bukan lagi sekadar mengejar angka viral.
“Konten yang menarik buat saya itu bukan sekadar viral atau ramai, tapi harus membekas dan meninggalkan dampak nyata. Contohnya lewat movement Sekolah Tanah Air yang kami bangun. Berawal dari konten digital yang memviralkan fasilitas bangku dan meja sekolah yang rusak, akhirnya tempat tersebut direvitalisasi dan diperbaiki. Kita harus bisa membuat konten yang mampu memperbaiki hidup seseorang,” tegasnya.
(poe)
Lihat Juga :