Media Sosial dan Jurnalisme Warga Dapat Membangun Reputasi Perguruan Tinggi
Selasa, 13 Oktober 2020 - 21:40 WIB
loading...
A
A
A
"Ini artinya memang pertumbuhan media sosial begitu luar biasa. Dan ini bisa dimanfaatkan oleh teman-teman humas untuk menggunakan ini untuk meningkatkan citra," terangnya.
Akan tetapi, dia mengingatkan bahwa karakter media sosial itu unik dan sulit ditebak. Ada hal yang terlihat bagus tetapi tidak menarik perhatian masyarakat. Namun kadang sesuatu yang sederhana malah menjadi viral. Maka ini menjadi tantangan luar biasa bagi jajaran bagian komunikasi suatu institusi untuk menangkap informasi dan membagikannya di medsos.
Djaka menerangkan, meski trend menggunakan media sosial untuk membangun reputasi sedang tinggi, namun perlu kehati-hatian di tengah banyak pencemaran informasi yang terjadi. Yang perlu ditekankan dan diwaspadai adalah, saran Djaka, ikuti arus dari sebuah media sosial itu tetapi jangan terbawa arusnya sehingga media sosial tetap bisa menjadi andalan dan bukan menjadi persoalan.
Sementara, Kepala Sosmed SINDO Media Chamad Hojin memaparkan, di era sosial media yang penting itu adalah kolaborasi. Sehingga perguruan tinggi untuk menyebarkan informasi demi membangun reputasi bisa menggandeng influencer atau tokoh ternama. Dia menuturkan, kolaborasi itu penting dan ini jarang dilakukan. Namun ini bisa dilakukan kampus untuk memberi informasi tentang hasil riset COVID-19 ataupun perkuliahan online dengan para influencer itu melalui sosmed.
Point kedua yang penting ialah Sharing. Chamad menjelaskan, konten yang bisa dibagikan untuk menarik minat masyarakat seperti kisah inspiratif misalnya terkait prestasi mahasiswa. Namun dia menekankan jika kolaborasi dan sharing untuk membangun branding ini tetap harus memperhatikan news value sebuah informasi.
Chamad juga menjelaskan jika informasi terkait publik juga bisa menarik. Misalnya saja tentang berapa biaya masuk ke UNS, katanya, perlu dibuat tutorial cara masuk UNS dengan biaya terjangkau. "Jika dikemas dengan menarik informasi sederhana seperti biaya ini juga akan menjadi informasi yang menarik," imbuhnya.
Akan tetapi, dia mengingatkan bahwa karakter media sosial itu unik dan sulit ditebak. Ada hal yang terlihat bagus tetapi tidak menarik perhatian masyarakat. Namun kadang sesuatu yang sederhana malah menjadi viral. Maka ini menjadi tantangan luar biasa bagi jajaran bagian komunikasi suatu institusi untuk menangkap informasi dan membagikannya di medsos.
Djaka menerangkan, meski trend menggunakan media sosial untuk membangun reputasi sedang tinggi, namun perlu kehati-hatian di tengah banyak pencemaran informasi yang terjadi. Yang perlu ditekankan dan diwaspadai adalah, saran Djaka, ikuti arus dari sebuah media sosial itu tetapi jangan terbawa arusnya sehingga media sosial tetap bisa menjadi andalan dan bukan menjadi persoalan.
Sementara, Kepala Sosmed SINDO Media Chamad Hojin memaparkan, di era sosial media yang penting itu adalah kolaborasi. Sehingga perguruan tinggi untuk menyebarkan informasi demi membangun reputasi bisa menggandeng influencer atau tokoh ternama. Dia menuturkan, kolaborasi itu penting dan ini jarang dilakukan. Namun ini bisa dilakukan kampus untuk memberi informasi tentang hasil riset COVID-19 ataupun perkuliahan online dengan para influencer itu melalui sosmed.
Point kedua yang penting ialah Sharing. Chamad menjelaskan, konten yang bisa dibagikan untuk menarik minat masyarakat seperti kisah inspiratif misalnya terkait prestasi mahasiswa. Namun dia menekankan jika kolaborasi dan sharing untuk membangun branding ini tetap harus memperhatikan news value sebuah informasi.
Chamad juga menjelaskan jika informasi terkait publik juga bisa menarik. Misalnya saja tentang berapa biaya masuk ke UNS, katanya, perlu dibuat tutorial cara masuk UNS dengan biaya terjangkau. "Jika dikemas dengan menarik informasi sederhana seperti biaya ini juga akan menjadi informasi yang menarik," imbuhnya.
(mpw)
Lihat Juga :