Media Sosial dan Jurnalisme Warga Dapat Membangun Reputasi Perguruan Tinggi
Selasa, 13 Oktober 2020 - 21:40 WIB
loading...
A
A
A
"Semua enam faktor ini merupakan pembentuk reputasi dan ini berarti kalau nanti kita bicara tentang citizen journalism dan juga media sosial konten-konten yang terkait dengan ini, itu berarti yang perlu dimunculkan karena itu akan dilihat bagaimana orang melihat perguruan tinggi pada enam aspek ini," imbuhnya.
Kemudian, dia menuturkan, dalam masa pandemi ini apa yang bisa ditonjolkan untuk membangun reputasi kampus misalnya tentang kesiapan kampus dalam mengelola perkuliahan online. Hal ini menjadi penting untuk diinformasikan karena di masa pandemi calon mahasiswa pasti ingin tahu kesiapan kampus itu dalam mengelola PJJ. (Baca juga: Epidemiolog UI Memprediksi Vaksinasi Baru Selesai Akhir 2021 )
Kebijakan uang kuliah tunggal atau UKT, katanya juga mesti direspon oleh perguruan tinggi. Selain itu juga informasi mengenai kesiapan kampus menjalani protokol kesehatan. Dan yang tidak kalah penting, ujarnya, adalah kontribusi kampus melalui riset dan inovasi yang bisa bermanfaat bagi masyarakat. Misalnya ventilator portabel ataupun riset lain terkait COVID-19 itu harus diekspos ke masyarakat. "Terkait dengan pandemi itu yang harus ditonjolkan sebagai isu untuk memperkuat posisi dari perguruan tinggi," terangnya.
Andre menyampaikan, kunci dari reputasi yang bagus adalah adanya keselarasan antara ekspektasi dari stakeholder dengan pengalaman yang dialami. Kesesuaian antara ekspektasi dan pengalaman ini harus kokoh sebab jika gapnya terlalu besar akan menyebabkan repitasi itu menjadi artifisial dan tidak menguntungkan bagi sebuah institusi. Dia menekankan, citra atau branding yang baik itu harus juga ditopang oleh kualitas yang juga baik. Sehingga nanti akan Selaras dan institusi perguruan tinggi akan bisa dengan mudah untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Pemimpin Redaksi (Pemred) SINDO Media Djaka Susila menyampaikan, dari sebuah penelitian di regional Asean dengan jumlah responden berusia 16-35 tahun mencapai 70.000 responden menyebutkan bahwa di masa pandemi ini terjadi peningkatan yang luar biasa dari penggunaan media sosial, yakni sekitar 82 %. Menariknya lagi, 40 % responden mengaku mereka menggunakan lebih dari satu media sosial baru untuk mengisi kekosongan waktu di masa pandemi ini. (Baca juga: IPB University Kembangkan Teknologi Cek Kehalalan Produk dengan Mudah dan Cepat )
Djaka menuturkan, hal ini menunjukan bahwa peran media sosial begitu luar biasa di masa pandemi ini. Sebab, ketika dulunya seseorang tidak paham menggunakan media sosial, atau saat seseorang menonaktifkan media sosialnya, kini bermain dan mengaktifkan media sosialnya untuk mencari informasi. Tidak hanya itu, aplikasi diskusi online seperti Zoom ataupun Google Meet pun menjadi tidak terhindarkan karena tidak hanya dipakai untuk rapat melainkan juga bisa untuk silaturahmi ketika lebaran lalu.
Kemudian, dia menuturkan, dalam masa pandemi ini apa yang bisa ditonjolkan untuk membangun reputasi kampus misalnya tentang kesiapan kampus dalam mengelola perkuliahan online. Hal ini menjadi penting untuk diinformasikan karena di masa pandemi calon mahasiswa pasti ingin tahu kesiapan kampus itu dalam mengelola PJJ. (Baca juga: Epidemiolog UI Memprediksi Vaksinasi Baru Selesai Akhir 2021 )
Kebijakan uang kuliah tunggal atau UKT, katanya juga mesti direspon oleh perguruan tinggi. Selain itu juga informasi mengenai kesiapan kampus menjalani protokol kesehatan. Dan yang tidak kalah penting, ujarnya, adalah kontribusi kampus melalui riset dan inovasi yang bisa bermanfaat bagi masyarakat. Misalnya ventilator portabel ataupun riset lain terkait COVID-19 itu harus diekspos ke masyarakat. "Terkait dengan pandemi itu yang harus ditonjolkan sebagai isu untuk memperkuat posisi dari perguruan tinggi," terangnya.
Andre menyampaikan, kunci dari reputasi yang bagus adalah adanya keselarasan antara ekspektasi dari stakeholder dengan pengalaman yang dialami. Kesesuaian antara ekspektasi dan pengalaman ini harus kokoh sebab jika gapnya terlalu besar akan menyebabkan repitasi itu menjadi artifisial dan tidak menguntungkan bagi sebuah institusi. Dia menekankan, citra atau branding yang baik itu harus juga ditopang oleh kualitas yang juga baik. Sehingga nanti akan Selaras dan institusi perguruan tinggi akan bisa dengan mudah untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Pemimpin Redaksi (Pemred) SINDO Media Djaka Susila menyampaikan, dari sebuah penelitian di regional Asean dengan jumlah responden berusia 16-35 tahun mencapai 70.000 responden menyebutkan bahwa di masa pandemi ini terjadi peningkatan yang luar biasa dari penggunaan media sosial, yakni sekitar 82 %. Menariknya lagi, 40 % responden mengaku mereka menggunakan lebih dari satu media sosial baru untuk mengisi kekosongan waktu di masa pandemi ini. (Baca juga: IPB University Kembangkan Teknologi Cek Kehalalan Produk dengan Mudah dan Cepat )
Djaka menuturkan, hal ini menunjukan bahwa peran media sosial begitu luar biasa di masa pandemi ini. Sebab, ketika dulunya seseorang tidak paham menggunakan media sosial, atau saat seseorang menonaktifkan media sosialnya, kini bermain dan mengaktifkan media sosialnya untuk mencari informasi. Tidak hanya itu, aplikasi diskusi online seperti Zoom ataupun Google Meet pun menjadi tidak terhindarkan karena tidak hanya dipakai untuk rapat melainkan juga bisa untuk silaturahmi ketika lebaran lalu.
Lihat Juga :