Monitoring Gunung Api dari Luar Angkasa, ITB Datangkan Dosen BGS Inggris
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:13 WIB
loading...
A
A
A
Salah satu aplikasi dalam monitoring gunung berapi dari luar angkasa (space) adalah dengan penggunaan Earth Observing (EO). Media ini berguna untuk mengumpulkan informasi tentang planet menggunakan penginderaan jarak jauh yang berbasis satelit. “Dengan EO kita bisa berada di atmosfer, luar angkasa, maupun di permukaan bumi tanpa menyentuh objeknya. Dan itu sangat penting untuk mengetahui parameter aktivitas gunung api,” jelas Novelliona.
Ia melanjutkan, EO ini sangat penting untuk diterapkan. Hal ini karena tidak semua gunung berapi dapat terpantau secara instrumental sehingga kita tidak mengetahui apa yang terjadi. Oleh karena itu, dengan bantuan EO dapat menjadi pelengkap untuk mengumpulkan informasi. “Untuk Indonesia sendiri EO sangat penting untuk diterapkan, karena Indonesia memiliki lebih dari 10.000 pulau dan lebih dari 100 gunung berapi aktif sehingga biayanya akan sangat mahal jika di monitor secara manual. Oleh karena itu EO dapat menjadi solusi,” ujarnya. (Baca juga: Bantu Peternak, Dua Mahasiswa ITS Gagas Sistem Kandang Cerdas )
Novelliona memberikan contoh kasus monitoring gunung berapi menggunakan EO di Indonesia yaitu Gunung Anak Krakatau. Dari pengamatan, hasil yang didapatkan jauh lebih bersih dengan resolusi yang bagus sehingga peneliti dapat mendapatkan banyak data atau informasi dari hasil citra EO tersebut. “Dari aktivitas gunung anak krakatau, EO dapat memberikan informasi berkaitan dengan volume runtuhan subaerial dan submarine, karakteristik degassing & aktivitas emisi, dan perubahan karakteristik topografi & pesisir,” pungkasnya.
Ia melanjutkan, EO ini sangat penting untuk diterapkan. Hal ini karena tidak semua gunung berapi dapat terpantau secara instrumental sehingga kita tidak mengetahui apa yang terjadi. Oleh karena itu, dengan bantuan EO dapat menjadi pelengkap untuk mengumpulkan informasi. “Untuk Indonesia sendiri EO sangat penting untuk diterapkan, karena Indonesia memiliki lebih dari 10.000 pulau dan lebih dari 100 gunung berapi aktif sehingga biayanya akan sangat mahal jika di monitor secara manual. Oleh karena itu EO dapat menjadi solusi,” ujarnya. (Baca juga: Bantu Peternak, Dua Mahasiswa ITS Gagas Sistem Kandang Cerdas )
Novelliona memberikan contoh kasus monitoring gunung berapi menggunakan EO di Indonesia yaitu Gunung Anak Krakatau. Dari pengamatan, hasil yang didapatkan jauh lebih bersih dengan resolusi yang bagus sehingga peneliti dapat mendapatkan banyak data atau informasi dari hasil citra EO tersebut. “Dari aktivitas gunung anak krakatau, EO dapat memberikan informasi berkaitan dengan volume runtuhan subaerial dan submarine, karakteristik degassing & aktivitas emisi, dan perubahan karakteristik topografi & pesisir,” pungkasnya.
(mpw)
Lihat Juga :