Digadang sebagai Pengganti UN, Konsep Asesmen Nasional Masih Tak Jelas
Selasa, 27 Oktober 2020 - 11:58 WIB
loading...
Sejumlah murid mengikuti proses belajar mengajar dengan tatap muka di sekolah. Foto/Dok/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memastikan melaksanakan Asesmen Nasional (AN) sebagai pengganti Ujian Nasional (UN). Namun hingga saat ini belum ada kejelasan konsep pelaksanaan AN yang digadang-gadang bisa meningkatkan kemampuan literasi, numerik, dan sains peserta didik di Indonesia.
Asesmen Nasional merupakan salah satu gebrakan yang dijanjikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di awal jabatannya. Melalui Program Merdeka Belajar founder Gojek Indonesia tersebut memastikan akan menghapus Ujian Nasional yang dinilai memberatkan peserta didik di Indonesia. (Baca juga: Pemerintah Alokasikan Rp2,3 T untuk Operasional Madrasah dan Pesantren )
Konsep UN sebagai parameter capaian pembelajaran (assesment of learning) dipandang tidak lagi efektif untuk mendongkrak kualitas lulusan Lembaga Pendidikan di Indonesia. Buktinya, dalam pemeringkatan Programme for International Student Assesment (PISA) atau Program Penilaian Pelajar Internasional, Indonesia selalu jeblok.
Dalam program yang digelar tiga tahun sekali tersebut, peringkat Indonesia rata-rata terlempar dari 50 besar. Kinerja siswa di Pendidikan menengah di tiga bidang utama yakni matematika, sains, dan literasi cukup memprihatinkan.
Dari hasil PISA 2018 yang dirilis Organisasi untuk Kerja sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) pada akhir tahun lalu, kemampuan literasi Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. (Baca juga: Kemenag Siapkan Bantuan Rp1,178 Triliun untuk PJJ Pendidikan Agama )
Asesmen Nasional merupakan salah satu gebrakan yang dijanjikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di awal jabatannya. Melalui Program Merdeka Belajar founder Gojek Indonesia tersebut memastikan akan menghapus Ujian Nasional yang dinilai memberatkan peserta didik di Indonesia. (Baca juga: Pemerintah Alokasikan Rp2,3 T untuk Operasional Madrasah dan Pesantren )
Konsep UN sebagai parameter capaian pembelajaran (assesment of learning) dipandang tidak lagi efektif untuk mendongkrak kualitas lulusan Lembaga Pendidikan di Indonesia. Buktinya, dalam pemeringkatan Programme for International Student Assesment (PISA) atau Program Penilaian Pelajar Internasional, Indonesia selalu jeblok.
Dalam program yang digelar tiga tahun sekali tersebut, peringkat Indonesia rata-rata terlempar dari 50 besar. Kinerja siswa di Pendidikan menengah di tiga bidang utama yakni matematika, sains, dan literasi cukup memprihatinkan.
Dari hasil PISA 2018 yang dirilis Organisasi untuk Kerja sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) pada akhir tahun lalu, kemampuan literasi Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. (Baca juga: Kemenag Siapkan Bantuan Rp1,178 Triliun untuk PJJ Pendidikan Agama )
Lihat Juga :