ITS Ciptakan Mesin Pencacah Bonggol Jagung untuk Tingkatkan Potensi Desa
Minggu, 01 November 2020 - 10:31 WIB
loading...
Mesin pencacah bonggol jagung buatan ITS bisa membantu para petani jagung untuk meningkatkan pendapatan. Foto/Dok/Humas ITS
A
A
A
SURABAYA - Tim pengabdian masyarakat (Abmas) dan kuliah kerja nyata (KKN) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan mesin pencacah untuk memanfaatkan limbah bonggol jagung menjadi pakan ternak dan bahan baku briket.
Bonggol jagung merupakan bagian tempat menempelnya biji-biji jagung. Bagian ini sering dianggap tidak memiliki manfaat sehingga kebanyakan petani jagung membuangnya. Hal ini juga terjadi pada di Desa Bolo, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik, yang dikenal sebagai juara satu penghasil jagung di daerah bagian utara 15 tahun terakhir. Produk jagung dari Desa Bolo, dijual dalam bentuk biji jagung sampai ke berbagai kota, sehingga hanya menyisakan bagian bonggolnya saja. (Baca juga: IPB University Bertahan di Posisi 601-800 pada THE WUR 2021 )
Ketua Tim Wiwiek Hendrowati mengatakan, tiap musim panen di Desa Bolo, bonggol jagung yang dihasilkan kebanyakan hanya dibuang di sebuah lahan. Hanya sedikit dari bonggol jagung itu yang dimanfaatkan untuk kegiatan pengasapan ikan di sana. Namun sisanya yang masih sangat banyak hanya dibuang begitu saja hingga berjamur. “Padahal (bonggol jagung) masih bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis,” katanya melalui siaran pers, Jumat (30/10)
Dosen Departemen Teknik Mesin ITS ini menyebutkan, bonggol jagung tersebut bisa dimanfaatkan menjadi bahan pakan ternak, terlebih di Desa Bolo juga terdapat peternakan. Selain itu, menurutnya, bonggol jagung juga bisa dimanfaatkan menjadi briket yang digunakan untuk bahan bakar. Kedua alternatif pemanfaatan bonggol jagung tersebut memerlukan mesin pencacah untuk membantu menghaluskan bonggol jagung menjadi serpihan-serpihan.
Mesin pencacah yang dirancang oleh Wiwiek beserta tim tersebut memiliki tiga tingkatan kekasaran, yakni kasar, sedang, dan halus. Tingkat kekasaran ini bergantung pada produk apa yang akan dihasilkan. Sebagai contoh, pencacahan untuk bahan pakan ternak dibutuhkan hasil yang kekasarannya sedang hingga halus agar bisa dikonsumsi oleh hewan ternak. (Baca juga: 82 Tim Program Kreativitas Mahasiswa UGM Lolos PIMNAS 2020 )
Bonggol jagung merupakan bagian tempat menempelnya biji-biji jagung. Bagian ini sering dianggap tidak memiliki manfaat sehingga kebanyakan petani jagung membuangnya. Hal ini juga terjadi pada di Desa Bolo, Kecamatan Ujung Pangkah, Kabupaten Gresik, yang dikenal sebagai juara satu penghasil jagung di daerah bagian utara 15 tahun terakhir. Produk jagung dari Desa Bolo, dijual dalam bentuk biji jagung sampai ke berbagai kota, sehingga hanya menyisakan bagian bonggolnya saja. (Baca juga: IPB University Bertahan di Posisi 601-800 pada THE WUR 2021 )
Ketua Tim Wiwiek Hendrowati mengatakan, tiap musim panen di Desa Bolo, bonggol jagung yang dihasilkan kebanyakan hanya dibuang di sebuah lahan. Hanya sedikit dari bonggol jagung itu yang dimanfaatkan untuk kegiatan pengasapan ikan di sana. Namun sisanya yang masih sangat banyak hanya dibuang begitu saja hingga berjamur. “Padahal (bonggol jagung) masih bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomis,” katanya melalui siaran pers, Jumat (30/10)
Dosen Departemen Teknik Mesin ITS ini menyebutkan, bonggol jagung tersebut bisa dimanfaatkan menjadi bahan pakan ternak, terlebih di Desa Bolo juga terdapat peternakan. Selain itu, menurutnya, bonggol jagung juga bisa dimanfaatkan menjadi briket yang digunakan untuk bahan bakar. Kedua alternatif pemanfaatan bonggol jagung tersebut memerlukan mesin pencacah untuk membantu menghaluskan bonggol jagung menjadi serpihan-serpihan.
Mesin pencacah yang dirancang oleh Wiwiek beserta tim tersebut memiliki tiga tingkatan kekasaran, yakni kasar, sedang, dan halus. Tingkat kekasaran ini bergantung pada produk apa yang akan dihasilkan. Sebagai contoh, pencacahan untuk bahan pakan ternak dibutuhkan hasil yang kekasarannya sedang hingga halus agar bisa dikonsumsi oleh hewan ternak. (Baca juga: 82 Tim Program Kreativitas Mahasiswa UGM Lolos PIMNAS 2020 )
Lihat Juga :