Ini Cara MTsN 6 Malang Atasi Kendala PJJ untuk Siswa yang Tak Miliki Gawai
Rabu, 11 November 2020 - 19:54 WIB
loading...
A
A
A
"Setiap hari anak saya harus bergantian dengan adiknya yang juga harus belajar online. Teguh seringkali harus mengalah, keluar dari kelasnya supaya HP bisa dipakai adiknya," tuturnya.
MTsN 6 Malang juga menggulirkan program "Mili Beras". Tim MTsN 6 Malang membagikan beras kepada siswa yang dikunjungi dalam program Bidik Signal Abhikarsya “BISA”. MTsN 6 Malang juga membagikan masker kepada keluarga siswa dan masyarakat sekitar lingkungan rumah siswa sebagai wujud kepedulian dan berbagi di tengah pandemi.
“Di masa pandemi ini, tidak ada pendekatan, strategis atau metode yang baku. Yang ada justru dinamis setiap saat, bukan lagi berubah tiap minggu atau hari,” tutur Sutirjo. (Baca juga: Hasil Reses Anggota DPR, Kuota Rp7,2 T Belum Dirasakan Semua Guru-Siswa )
Dari 36 anak yang terdampak pandemi, kata Sutirjo, sebanyak 11 siswa difasilitasi dengan model semut WiFi/subsidi WiFi, 6 anak dengan pendekatan peminjaman HP baru swadaya, dan 19 anak subsidi kuota. “Pola dan jumlah seperti itu terus bergerak, yang penting tetap fokus memberikan solusi dan hadir mendidik dalam situasi apapun sebagai pilihan realitis untuk membangun pendidikan bangsa,” tandas Sutirjo.
MTsN 6 Malang juga menggulirkan program "Mili Beras". Tim MTsN 6 Malang membagikan beras kepada siswa yang dikunjungi dalam program Bidik Signal Abhikarsya “BISA”. MTsN 6 Malang juga membagikan masker kepada keluarga siswa dan masyarakat sekitar lingkungan rumah siswa sebagai wujud kepedulian dan berbagi di tengah pandemi.
“Di masa pandemi ini, tidak ada pendekatan, strategis atau metode yang baku. Yang ada justru dinamis setiap saat, bukan lagi berubah tiap minggu atau hari,” tutur Sutirjo. (Baca juga: Hasil Reses Anggota DPR, Kuota Rp7,2 T Belum Dirasakan Semua Guru-Siswa )
Dari 36 anak yang terdampak pandemi, kata Sutirjo, sebanyak 11 siswa difasilitasi dengan model semut WiFi/subsidi WiFi, 6 anak dengan pendekatan peminjaman HP baru swadaya, dan 19 anak subsidi kuota. “Pola dan jumlah seperti itu terus bergerak, yang penting tetap fokus memberikan solusi dan hadir mendidik dalam situasi apapun sebagai pilihan realitis untuk membangun pendidikan bangsa,” tandas Sutirjo.
(mpw)
Lihat Juga :