Bantu Nelayan, 2 Mahasiswa ITS Ini Ciptakan Alat Pendeteksi Ikan di Laut
Senin, 07 Desember 2020 - 22:01 WIB
loading...
(dari kiri) Rafly Zaka Rulloh dan Figo Fergiyanto Dachlan saat menunjukkan gagasannya berupa SMAF-DT untuk membantu nelayan. Foto/Dok/Humas ITS)
A
A
A
JAKARTA - Hasil tangkapan ikan para nelayan di Selat Madura yang relatif sedikit membuat dua mahasiswa ITS menggagas alat Smart Fish Detection Technology (SMAF-DT). Alat ini mampu mendeteksi area dengan banyak ikan, sehingga nelayan bisa menebar jaring di area itu dan mendapat hasil maksimal.
Dua mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi, Fakultas Vokasi, ITS , Rafly Zaka Rulloh dan Figo Fergiyanto Dachlan. Keduanya mendapatkan ide tersebut berawal dari pengamatan mereka terhadap kebiasaan para nelayan yang setiap hari mencari ikan di Selat Madura. Mereka melihat hasil tangkapan ikan nelayan Kabupaten Bangkalan relatif sedikit dibandingkan dengan nelayan daerah lain, sehingga berpengaruh pada perekonomian mereka. (Baca juga: Teknologi Sensor Bawah Laut Karya Mahasiswa ITS Raih 2 Penghargaan Internasional )
Rafly menjelaskan hal tersebut terjadi karena daerah jangkauan perairan yang kecil. Selain itu, metode penangkapan ikan juga masih menggunakan cara lama. Yakni dengan cara menebar jaring di tengah laut berdasarkan naluri, ingatan dan perkiraan para nelayan terhadap riwayat penangkapan ikan sebelumnya.
Saat di tengah laut, nelayan menebar jaring dan memukul-mukul air di sekelilingnya supaya ikan-ikan tersebut bergerak menuju jaring. Belum lagi, selama kurang lebih enam jam di tengah laut nelayan hanya akan pulang membawa hasil tangkapan 3 - 5 kilogram saja. “Tentu saja ini tidak sebanding dengan biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan oleh nelayan,” katanya melalui siaran pers, Senin (7/12).
Guna mengatasi permasalahan itu, Rafly dan Figo membuat inovasi baru berupa alat yang bisa membantu nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapannya. Alat bernama SMAF-DT ini dipasang pada bagian bawah perahu sehingga dapat mendeteksi keberadaan ikan di dalam perairan dengan menggunakan sensor. (Baca juga: Tim Dosen FKG UI Raih Juara 1 Kompetisi Internasional SEAADE Award )
Rafly menjelaskan bahwa SMAF-DT ini memanfaatkan gelombang bunyi dan sensor ultrasonik untuk mendeteksi pergerakan ikan di laut. Kemudian dilengkapi dengan lampu alarm di atas perahu sebagai indikator. Ketika perahu mulai berjalan menuju laut, sensor mulai mendeteksi adanya pergerakan ikan yang ada di dalam air. “Saat sensor tersebut mengenai ikan maka lampu indikator akan menyala,” terang Rafly.
SMAF-DT juga dilengkapi dengan teknologi pelacakan posisi melalui GPS sehingga dapat memantau pergerakan kapal dan merekam posisi riwayat penangkapan sebelumnya. Alat yang dapat disambungkan ke smartphone ini bisa digunakan oleh orang di rumah agar memantau posisi perahu di mana secara langsung melalui aplikasi SMAF-DT.
Dua mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi, Fakultas Vokasi, ITS , Rafly Zaka Rulloh dan Figo Fergiyanto Dachlan. Keduanya mendapatkan ide tersebut berawal dari pengamatan mereka terhadap kebiasaan para nelayan yang setiap hari mencari ikan di Selat Madura. Mereka melihat hasil tangkapan ikan nelayan Kabupaten Bangkalan relatif sedikit dibandingkan dengan nelayan daerah lain, sehingga berpengaruh pada perekonomian mereka. (Baca juga: Teknologi Sensor Bawah Laut Karya Mahasiswa ITS Raih 2 Penghargaan Internasional )
Rafly menjelaskan hal tersebut terjadi karena daerah jangkauan perairan yang kecil. Selain itu, metode penangkapan ikan juga masih menggunakan cara lama. Yakni dengan cara menebar jaring di tengah laut berdasarkan naluri, ingatan dan perkiraan para nelayan terhadap riwayat penangkapan ikan sebelumnya.
Saat di tengah laut, nelayan menebar jaring dan memukul-mukul air di sekelilingnya supaya ikan-ikan tersebut bergerak menuju jaring. Belum lagi, selama kurang lebih enam jam di tengah laut nelayan hanya akan pulang membawa hasil tangkapan 3 - 5 kilogram saja. “Tentu saja ini tidak sebanding dengan biaya bahan bakar yang harus dikeluarkan oleh nelayan,” katanya melalui siaran pers, Senin (7/12).
Guna mengatasi permasalahan itu, Rafly dan Figo membuat inovasi baru berupa alat yang bisa membantu nelayan untuk meningkatkan hasil tangkapannya. Alat bernama SMAF-DT ini dipasang pada bagian bawah perahu sehingga dapat mendeteksi keberadaan ikan di dalam perairan dengan menggunakan sensor. (Baca juga: Tim Dosen FKG UI Raih Juara 1 Kompetisi Internasional SEAADE Award )
Rafly menjelaskan bahwa SMAF-DT ini memanfaatkan gelombang bunyi dan sensor ultrasonik untuk mendeteksi pergerakan ikan di laut. Kemudian dilengkapi dengan lampu alarm di atas perahu sebagai indikator. Ketika perahu mulai berjalan menuju laut, sensor mulai mendeteksi adanya pergerakan ikan yang ada di dalam air. “Saat sensor tersebut mengenai ikan maka lampu indikator akan menyala,” terang Rafly.
SMAF-DT juga dilengkapi dengan teknologi pelacakan posisi melalui GPS sehingga dapat memantau pergerakan kapal dan merekam posisi riwayat penangkapan sebelumnya. Alat yang dapat disambungkan ke smartphone ini bisa digunakan oleh orang di rumah agar memantau posisi perahu di mana secara langsung melalui aplikasi SMAF-DT.
Lihat Juga :