Simposium Nasional AGSI Tegaskan Sejarah Sebagai Keterampilan Berpikir
Rabu, 16 Desember 2020 - 16:25 WIB
loading...
A
A
A
Dia melanjutkan, pemahaman dan kesadaran mengenai keindonesiaan wajib diketahui oleh segenap bangsa Indonesia. Generasi muda pun, ujarnya, jangan sampai amnesia akan sejarah. Bahkan lupa dari mana dirinya berasal, terkikis jati diri sehingga gagal menjadi manusia yang berkarakter dan berbudaya.
Dia melanjutkan, secara progresif pembelajaran sejarah harus mampu mengkontekstualisasikan berbagai peristiwa yang terjadi dimasa lalu dengan berbagai peristiwa yang dialami sekarang.
‘’Untuk kita bisa saling merenungi, mengevaluasi, membandingkan, atau mengambil keputusan, sekaligus sebagai orientasi untuk kehidupan masa depan yang lebih baik,” terangnya. (Baca juga: AGSI Harap Pengangkatan Guru Honorer Pertimbangkan Kriteria Lain )
Kesimpulan berikutnya, urai Sumardiansyah, yakni sejarah bukanlah sebatas hafalan atas fakta masa lalu, melainkan sebagai keterampilan berpikir. Dia menjelaskan, muara dari pembelajaran sejarah yang berorientasi pada keterampilan berpikir secara alamiah akan mendorong pembentukan manusia merdeka yang memiliki kesadaran sejarah dan sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.
Symposium ini juga merekomendasikan akan adanya peningkatan kapasitas guru sejarah secara professional dan penempatan mata pelajaran sejarah dalam kelompok wajib/dasar di semua kelas. Baik kelas X, XI, XII dan jenjang SMA/SMK/MA/MAK dengan jumlah jam proporsional adalah sebuah keharusan bagi pemerintah dan/atau seluruh stake holder terkait.
Dia melanjutkan, secara progresif pembelajaran sejarah harus mampu mengkontekstualisasikan berbagai peristiwa yang terjadi dimasa lalu dengan berbagai peristiwa yang dialami sekarang.
‘’Untuk kita bisa saling merenungi, mengevaluasi, membandingkan, atau mengambil keputusan, sekaligus sebagai orientasi untuk kehidupan masa depan yang lebih baik,” terangnya. (Baca juga: AGSI Harap Pengangkatan Guru Honorer Pertimbangkan Kriteria Lain )
Kesimpulan berikutnya, urai Sumardiansyah, yakni sejarah bukanlah sebatas hafalan atas fakta masa lalu, melainkan sebagai keterampilan berpikir. Dia menjelaskan, muara dari pembelajaran sejarah yang berorientasi pada keterampilan berpikir secara alamiah akan mendorong pembentukan manusia merdeka yang memiliki kesadaran sejarah dan sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.
Symposium ini juga merekomendasikan akan adanya peningkatan kapasitas guru sejarah secara professional dan penempatan mata pelajaran sejarah dalam kelompok wajib/dasar di semua kelas. Baik kelas X, XI, XII dan jenjang SMA/SMK/MA/MAK dengan jumlah jam proporsional adalah sebuah keharusan bagi pemerintah dan/atau seluruh stake holder terkait.
(mpw)
Lihat Juga :