KPAI: PJJ Timbulkan Disparitas Digital Kaya-Miskin dan Jawa-Luar Jawa
Minggu, 24 Januari 2021 - 14:05 WIB
loading...
A
A
A
Kemudian, pihak KPAI kembali melakukan survei yang kedua, tujuannya untuk mendalami suara anak terkait alasanya setuju ingin segera PTM. Baca juga: Kemendikbud Pertanyakan Daerah Masih Enggan Gelar Pembelajaran Tatap Muka
"Itu lantaran jumlah ini naik angkanya, jadi kalau sebelumnya 63,7 persen sekarang mencapai 78 persen anak yang setuju sekolah dibuka kembali dan jumlah responden yang berpartisipasi, di dalam survei kami adalah 62.448. Jadi jumlahnya memang cukup tinggi yang menginginkan sekolah," katanya.
Bahkan, kata Retno, hanya 10 persen siswa yang tidak setuju PTM. Alasannya, dari hasil survei yang sama, kata Retno, para siswa ada yang juga ragu-ragu.
"Bahkan yang ragu-ragu ini lebih tinggi dari yang tidak setuju, yaitu 12 persen. Kami menanyakan alasan kepada yang setuju dan tidak setuju, terjadi perubahan juga, pada saat survei pertama dengan yang kedua," katanya.
Pada survei pertama, mereka yang setuju sekolah dibuka kembali alasannya karena PJJ yang selama ini dilaksanakan tugas belajarnya cukup berat.
"Jadi mereka beralasan lebih enak sekolah daripada PJJ, namun ketika sekarang enggak, jadi kalau di 78 persen setuju sekolah dibuka kembali ini, jumlah yang jenuh PJJ itu hanya 25 persen dari data kami," ungkapnya.
Meski demikian, lanjut Retno, 57 persen menyatakan mereka itu kesulitan dengan PJJ atau belajar daring, terkait materi-materi sulit di mata pelajaran.
"Itu lantaran jumlah ini naik angkanya, jadi kalau sebelumnya 63,7 persen sekarang mencapai 78 persen anak yang setuju sekolah dibuka kembali dan jumlah responden yang berpartisipasi, di dalam survei kami adalah 62.448. Jadi jumlahnya memang cukup tinggi yang menginginkan sekolah," katanya.
Bahkan, kata Retno, hanya 10 persen siswa yang tidak setuju PTM. Alasannya, dari hasil survei yang sama, kata Retno, para siswa ada yang juga ragu-ragu.
"Bahkan yang ragu-ragu ini lebih tinggi dari yang tidak setuju, yaitu 12 persen. Kami menanyakan alasan kepada yang setuju dan tidak setuju, terjadi perubahan juga, pada saat survei pertama dengan yang kedua," katanya.
Pada survei pertama, mereka yang setuju sekolah dibuka kembali alasannya karena PJJ yang selama ini dilaksanakan tugas belajarnya cukup berat.
"Jadi mereka beralasan lebih enak sekolah daripada PJJ, namun ketika sekarang enggak, jadi kalau di 78 persen setuju sekolah dibuka kembali ini, jumlah yang jenuh PJJ itu hanya 25 persen dari data kami," ungkapnya.
Meski demikian, lanjut Retno, 57 persen menyatakan mereka itu kesulitan dengan PJJ atau belajar daring, terkait materi-materi sulit di mata pelajaran.
Lihat Juga :