Inovasi, 4 Mahasiswa UNS Ciptakan Pendeteksi Dini Diabetes Melitus
Senin, 01 Februari 2021 - 16:16 WIB
loading...
A
A
A
“Kami juga melihat posisi Indonesia yang tercatat sebagai negara peringkat ke-6 dengan penderita diabetes melitus terbanyak di dunia pada tahun 2017 berdasar data Kementerian Kesehatan (Kemenkes)” ujarnya.
Selama mengembangkan inovasi Elaeis Glucotest ini, Ramanda dan rekan-rekannya memberikan sedikit sentuhan modifikasi dengan bahan pendukung graphene dan Carbon nanotube yang memiliki sifat konduktivitas dan biodegradasi yang tinggi.
Dalam hal ini, bahan pendukung nanokristal selulosa TKKS harus memiliki sifat konduktivitas yang tidak mudah terbiodegradasi. Oleh karena itu, Graphene-Carbon nanotube (G-CNT) digunakan karena mempunyai sifat konduktivitas listrik yang sangat baik, biodegradasi yang tinggi, dan G-CNT belum pernah dikombinasikan pada nanokristal selulosa (NKS) sebagai biosensor. Baca juga: Ini 3 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Indonesia versi Webometrics
“Diharapkan dengan kombinasi nanokristal selulosa sebagai biosensor glukosa, komposit NKS/ G-CNT dapat memiliki kemampuan konduktivitas listrik yang baik serta sebagai tempat imobilisasi enzim glukosa oksidase yang baik sehingga dapat menjadi biosensor glukosa yang baik pula,” imbuhnya.
Ia menambahkan jika inovasi Elaeis Glucotest telah ditahap karakterisasi nanokristal selulosa yang dihasilkan. Melalui uji FTIR (Fourier-transform Infrared Spectroscopy), dapat diketahui penurunan lignin dan hemiselulosa yang semakin besarnya daerah kristal dan semakin berkurangnya daerah amorf akibat proses hidrolisis.
Selama mengembangkan inovasi Elaeis Glucotest ini, Ramanda dan rekan-rekannya memberikan sedikit sentuhan modifikasi dengan bahan pendukung graphene dan Carbon nanotube yang memiliki sifat konduktivitas dan biodegradasi yang tinggi.
Dalam hal ini, bahan pendukung nanokristal selulosa TKKS harus memiliki sifat konduktivitas yang tidak mudah terbiodegradasi. Oleh karena itu, Graphene-Carbon nanotube (G-CNT) digunakan karena mempunyai sifat konduktivitas listrik yang sangat baik, biodegradasi yang tinggi, dan G-CNT belum pernah dikombinasikan pada nanokristal selulosa (NKS) sebagai biosensor. Baca juga: Ini 3 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Indonesia versi Webometrics
“Diharapkan dengan kombinasi nanokristal selulosa sebagai biosensor glukosa, komposit NKS/ G-CNT dapat memiliki kemampuan konduktivitas listrik yang baik serta sebagai tempat imobilisasi enzim glukosa oksidase yang baik sehingga dapat menjadi biosensor glukosa yang baik pula,” imbuhnya.
Ia menambahkan jika inovasi Elaeis Glucotest telah ditahap karakterisasi nanokristal selulosa yang dihasilkan. Melalui uji FTIR (Fourier-transform Infrared Spectroscopy), dapat diketahui penurunan lignin dan hemiselulosa yang semakin besarnya daerah kristal dan semakin berkurangnya daerah amorf akibat proses hidrolisis.
Lihat Juga :