Cegah Risiko Terpapar Covid-19, Peneliti FTUI Kembangkan Puvicon
Jum'at, 26 Februari 2021 - 14:08 WIB
loading...
A
A
A
Dengan demikian plasma anion (ion negatif) ini akan mendorong fenomena terjadinya humidifikasi (kelembaban) lokal di permukaan kulit manusia sehingga panas laten yang dihasilkan dari proses humidifikasi tersebut akan menyerap panas di permukaan kulit, sehingga kulit akan terasa dingin.
“Pada pemakaian rutin maka akan berpengaruh terhadap kualitas kulit, yaitu menjadi lebih bersih dan halus. Ditambah dengan penggunaan teknologi cyclon fan (kipas angin berputar), maka efek pendinginan ini akan lebih baik lagi,” kata Bismo, Kamis 25 Februari 2021.Baca juga: Tersisa 6.844 Tenaga Kesehatan Belum Divaksinasi Covid-19
Selain menghasilkan dan menghamburkan ion-ion negatif dengan kelembaban rendah, teknologi PUViCO3 ini juga dapat mengatasi polusi udara sekaligus berperan sebagai “disinfektan elektronik” yang bekerja dengan mekanisme difusi (penyebaran) secara cepat karena adanya sistem konveksi paksa.
Proses inaktivasi ataupun penghancuran bakteri dan virus dilakukan juga oleh tirai-tirai virtual (virtual curtains) berupa sinar UV-C yang memiliki panjang gelombang 220-280 nm dan selanjutnya diperkuat lagi oleh emisi Ozon (O3) ringan dengan konsentrasi maksimum sebesar 0,05 ppm.
“Dengan penggunaan panjang gelombang UV-C sampai sebesar 280 nm, diharapkan keberadaan ozon akan segera hilang tidak lama setelah melewati lampu UV-C (maksimum 50 cm dari lampu UV-C) Ozon dapat diubah kembali melalui jalur reaksi dekomposisi ozon menjadi O2 di udara. Di bagian keluaran alat ini, yaitu berupa emisi udara yang telah dibersihkan oleh UV-C dan ozon (O3) tadi, maka alat pembangkin plasma akan lebih efektif lagi menonaktifkan bahkan memusnahkan mikroba-mikroba,” tuturnya.Baca juga: Pendaftaran SNMPTN Ditutup, 568.330 Siswa Siap Bersaing Perebutkan Kursi PTN
“Pada pemakaian rutin maka akan berpengaruh terhadap kualitas kulit, yaitu menjadi lebih bersih dan halus. Ditambah dengan penggunaan teknologi cyclon fan (kipas angin berputar), maka efek pendinginan ini akan lebih baik lagi,” kata Bismo, Kamis 25 Februari 2021.Baca juga: Tersisa 6.844 Tenaga Kesehatan Belum Divaksinasi Covid-19
Selain menghasilkan dan menghamburkan ion-ion negatif dengan kelembaban rendah, teknologi PUViCO3 ini juga dapat mengatasi polusi udara sekaligus berperan sebagai “disinfektan elektronik” yang bekerja dengan mekanisme difusi (penyebaran) secara cepat karena adanya sistem konveksi paksa.
Proses inaktivasi ataupun penghancuran bakteri dan virus dilakukan juga oleh tirai-tirai virtual (virtual curtains) berupa sinar UV-C yang memiliki panjang gelombang 220-280 nm dan selanjutnya diperkuat lagi oleh emisi Ozon (O3) ringan dengan konsentrasi maksimum sebesar 0,05 ppm.
“Dengan penggunaan panjang gelombang UV-C sampai sebesar 280 nm, diharapkan keberadaan ozon akan segera hilang tidak lama setelah melewati lampu UV-C (maksimum 50 cm dari lampu UV-C) Ozon dapat diubah kembali melalui jalur reaksi dekomposisi ozon menjadi O2 di udara. Di bagian keluaran alat ini, yaitu berupa emisi udara yang telah dibersihkan oleh UV-C dan ozon (O3) tadi, maka alat pembangkin plasma akan lebih efektif lagi menonaktifkan bahkan memusnahkan mikroba-mikroba,” tuturnya.Baca juga: Pendaftaran SNMPTN Ditutup, 568.330 Siswa Siap Bersaing Perebutkan Kursi PTN
Lihat Juga :