Hasil Survei, Mayoritas Orang Tua dan Siswa Ingin Sekolah Dibuka
Kamis, 29 April 2021 - 21:24 WIB
loading...
A
A
A
Pengamat pendidikan Itje Chodidjah mengatakan PTM harus dilakukan secara bertahap. Dia mengungkapkan kejenuhan yang dialami anak-anak itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Akan tetapi, dirasakan anak-anak di seluruh dunia. Dia mewanti-wanti Kemendikbud-Ristek untuk memperhatikan psikis anak-anak karena ada jeda satu tahun mereka tidak bertemu dengan teman-teman dan gurunya.
“Anak-anak ke sekolah dengan kondisi psikologis goyah. Ini perlu menjadi perhatian masyarakat dan Kemendikbud. Bagaimana Kemendikbud merancang waktu dan kegiatan kembali ke sekolah yang sehat secara psikologi setelah mengalami turbulensi proses belajar di rumah. Ada proses belajar daring yang menyenangkan, tetapi tidak sedikit anak-anak tidak belajar,” tuturnya.
Itje menyatakan saat ini masyarakat tidak bisa menghindari lagi pemanfaatan dan pengintegrasian TI. Anak-anak, menurutnya, sudah terpapar berbagai informasi dari aneka platform digital. “Saya berharap Kemendikbud mengupayakan adanya program dan panduan melalui aplikasi yang sebar secara luas. Modelnya (harus) sederhana untuk memberikan wawasan kepada guru dan orang tua bagaimana memanfaatkan teknologi dalam proses belajar mengajar,” jelasnya.
Sementara itu, peneliti kependudukan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Fikri Muslim memprediksi PJJ masih menjadi pilihan utama pengajaran pada tahun ini. Dia menekankan perlu adanya inovasi dan kreativitas agar proses belajar-mengajar lebih optimal. “Berhubungan masih pandemi, kesehatan tetap utama. PTM bisa digelar di wilayah yang kasus Covid-19 rendah,” katanya.
Beberapa hal yang membuat PJJ tidak efektif adalah infrastruktur, kondisi geografis, dan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Dia mengungkapkan ada guru dan siswa-siswi yang tidak memiliki gawai. Padahal itu “senjata” utama untuk mengikuti PJJ.
“Ada yang harus berebut dengan orang tuanya. Itu kondisi yang terlihat sepele tapi menjadi faktor PJJ tidak efektif. Kemudian, secara kapasitas guru dan siswa belum mampu mengoperasikan gawai atau aplikasi. Kalau sudah lebih satu tahun, lebih luwes mengoperasikan. Terkait wilayah 3T, ada kondisi cakupan internet dan sinyal yang rendah,” pungkasnya.
“Anak-anak ke sekolah dengan kondisi psikologis goyah. Ini perlu menjadi perhatian masyarakat dan Kemendikbud. Bagaimana Kemendikbud merancang waktu dan kegiatan kembali ke sekolah yang sehat secara psikologi setelah mengalami turbulensi proses belajar di rumah. Ada proses belajar daring yang menyenangkan, tetapi tidak sedikit anak-anak tidak belajar,” tuturnya.
Itje menyatakan saat ini masyarakat tidak bisa menghindari lagi pemanfaatan dan pengintegrasian TI. Anak-anak, menurutnya, sudah terpapar berbagai informasi dari aneka platform digital. “Saya berharap Kemendikbud mengupayakan adanya program dan panduan melalui aplikasi yang sebar secara luas. Modelnya (harus) sederhana untuk memberikan wawasan kepada guru dan orang tua bagaimana memanfaatkan teknologi dalam proses belajar mengajar,” jelasnya.
Sementara itu, peneliti kependudukan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Fikri Muslim memprediksi PJJ masih menjadi pilihan utama pengajaran pada tahun ini. Dia menekankan perlu adanya inovasi dan kreativitas agar proses belajar-mengajar lebih optimal. “Berhubungan masih pandemi, kesehatan tetap utama. PTM bisa digelar di wilayah yang kasus Covid-19 rendah,” katanya.
Beberapa hal yang membuat PJJ tidak efektif adalah infrastruktur, kondisi geografis, dan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Dia mengungkapkan ada guru dan siswa-siswi yang tidak memiliki gawai. Padahal itu “senjata” utama untuk mengikuti PJJ.
“Ada yang harus berebut dengan orang tuanya. Itu kondisi yang terlihat sepele tapi menjadi faktor PJJ tidak efektif. Kemudian, secara kapasitas guru dan siswa belum mampu mengoperasikan gawai atau aplikasi. Kalau sudah lebih satu tahun, lebih luwes mengoperasikan. Terkait wilayah 3T, ada kondisi cakupan internet dan sinyal yang rendah,” pungkasnya.
(mpw)
Lihat Juga :