Dosen Unpad Jabarkan Kekeliruan Umum pada Penyusunan Karya Ilmiah
Kamis, 27 Mei 2021 - 22:26 WIB
loading...
A
A
A
2. Tidak Fokus ke Masalah
Dosen Program Studi Sastra Indonesia UNPAD ini memaparkan, acapkali mahasiswa tidak fokus dalam menjelaskan tema penelitian. Hal ini terlihat dari bab pertama atau pendahuluan yang menjadi mukadimah dari suatu karya ilmiah.
Adakalanya, pendahuluan menjelaskan paparan yang terlalu luas. Padahal, Lina menganjurkan agar mahasiswa sebaiknya fokus langsung menjelaskan tema penelitian.
“Sebetulnya sekarang menulis itu temanya mau apa kenapa tidak itu saja yang langsung diangkat dalam tulisan hingga orang itu tertarik untuk membaca tulisan,” kata Lina.
Baca juga: UNAIR Sediakan Beasiswa ADS Studi S2 dan S3 untuk Mahasiswa Internasional
3. Kesalahan Berbahasa
Kesalahan berbahasa juga menjadi kekeliruan umum yang kerap dijumpai pada karya ilmiah. Kekeliruan ini terlihat dari segi penulisan maupun logika berbahasa.
Lina mengatakan, dari segi kesalahan penulisan, rata-rata mahasiswa tidak bisa membedakan antara kalimat tunggal dan majemuk. Salah satu contohnya adalah penggunaan kalimat majemuk yang tidak lengkap.
“Dalam kalimat majemuk ternyata hanya anaknya saja, induk kalimatnya tidak ada,” terangnya.
Selain itu, kekeliruan dalam menggunakan tanda baca, kaidah penulisan huruf kapital, hingga pemilihan kata banyak dijumpai dalam karya ilmiah. Sementara dari sisi logika berbahasa, kebanyakan karya ilmiah memiliki kelemahan di sisi tersebut. Padahal, logika kalimat itu penting tetapi banyak yang tidak mengindahkan.
Lina mencontohkan, salah satu logika berbahasa yang keliru adalah pemakaian konjungsi atau kata hubung dalam satu kalimat. Terkadang ada penulis yang menggunakan dua konjungsi atau lebih dalam satu kalimat. Padahal, adanya dua konjungsi atau lebih dalam satu kalimat sudah jelas membuat logika kalimat menjadi tidak jelas.
Dosen Program Studi Sastra Indonesia UNPAD ini memaparkan, acapkali mahasiswa tidak fokus dalam menjelaskan tema penelitian. Hal ini terlihat dari bab pertama atau pendahuluan yang menjadi mukadimah dari suatu karya ilmiah.
Adakalanya, pendahuluan menjelaskan paparan yang terlalu luas. Padahal, Lina menganjurkan agar mahasiswa sebaiknya fokus langsung menjelaskan tema penelitian.
“Sebetulnya sekarang menulis itu temanya mau apa kenapa tidak itu saja yang langsung diangkat dalam tulisan hingga orang itu tertarik untuk membaca tulisan,” kata Lina.
Baca juga: UNAIR Sediakan Beasiswa ADS Studi S2 dan S3 untuk Mahasiswa Internasional
3. Kesalahan Berbahasa
Kesalahan berbahasa juga menjadi kekeliruan umum yang kerap dijumpai pada karya ilmiah. Kekeliruan ini terlihat dari segi penulisan maupun logika berbahasa.
Lina mengatakan, dari segi kesalahan penulisan, rata-rata mahasiswa tidak bisa membedakan antara kalimat tunggal dan majemuk. Salah satu contohnya adalah penggunaan kalimat majemuk yang tidak lengkap.
“Dalam kalimat majemuk ternyata hanya anaknya saja, induk kalimatnya tidak ada,” terangnya.
Selain itu, kekeliruan dalam menggunakan tanda baca, kaidah penulisan huruf kapital, hingga pemilihan kata banyak dijumpai dalam karya ilmiah. Sementara dari sisi logika berbahasa, kebanyakan karya ilmiah memiliki kelemahan di sisi tersebut. Padahal, logika kalimat itu penting tetapi banyak yang tidak mengindahkan.
Lina mencontohkan, salah satu logika berbahasa yang keliru adalah pemakaian konjungsi atau kata hubung dalam satu kalimat. Terkadang ada penulis yang menggunakan dua konjungsi atau lebih dalam satu kalimat. Padahal, adanya dua konjungsi atau lebih dalam satu kalimat sudah jelas membuat logika kalimat menjadi tidak jelas.
Lihat Juga :