Unpar Tak Ingin Buru-buru Gelar Kuliah Tatap Muka, Ini Alasannya
Kamis, 09 September 2021 - 14:18 WIB
loading...
A
A
A
"Kalau sekolah-sekolah jelas zonasinya, letak geografis dari para siswanya. Namun, untuk mahasiswa sporadis, mereka banyak yang berasal dari luar Kota Bandung," jelasnya.
Baca juga: Wujudkan Kampus Merdeka, UGM Jalin Kerja Sama dengan Perguruan Tinggi Jerman
Adapun dari sisi perkuliahan, Mangadar beralasan bahwa perkuliahan di perguruan tinggi lebih luas jika dilaksanakan secara daring (dalam jaringan), baik dari sisi teknologi maupun perkuliahan mahasiwanya.
"Selama belajar daring, mahasiswa cenderung lebih independen dan mandiri dalam menggali bahan ajar, meskipun memang ada kelemahan seperti interaksi sosial antarmahasiswa maupun hal yang berkaitan dengan nilai sosial," katanya.
Terakhir, kata Mangadar, berkaitan erat dengan aspek kesehatan. Menurutnya, meskipun 5.000-an mahasiswa dari total 11.000 mahasiswa Unpar sudah mendapatkan vaksinasi, termasuk seluruh dosen dan pegawai Unpar, namun aspek geografis termasuk demografis mahasiswa Unpar membuat pihaknya khawatir perkuliahan tatap muka berpotensi memunculkan klaster COVID-19.
"Pertimbangan berikutnya kenapa kita tidak buru-buru PTM itu juga erat kaitannya dengan aspek kesehatan. Komposisi demografis dan geografis, ada mahasiswa dari Yogyakarta, Sumatera yang datang ke sini. Apakah mereka sudah divaksin? atau orang-orang di tempat mereka tinggal di sekitar kampus juga sudah divaksin? tempat tinggal mereka aman atau tidak? kita perlu antisipasi dan wanti-wanti soal klaster perguruan tinggi," papar Mangadar.
Baca juga: Wujudkan Kampus Merdeka, UGM Jalin Kerja Sama dengan Perguruan Tinggi Jerman
Adapun dari sisi perkuliahan, Mangadar beralasan bahwa perkuliahan di perguruan tinggi lebih luas jika dilaksanakan secara daring (dalam jaringan), baik dari sisi teknologi maupun perkuliahan mahasiwanya.
"Selama belajar daring, mahasiswa cenderung lebih independen dan mandiri dalam menggali bahan ajar, meskipun memang ada kelemahan seperti interaksi sosial antarmahasiswa maupun hal yang berkaitan dengan nilai sosial," katanya.
Terakhir, kata Mangadar, berkaitan erat dengan aspek kesehatan. Menurutnya, meskipun 5.000-an mahasiswa dari total 11.000 mahasiswa Unpar sudah mendapatkan vaksinasi, termasuk seluruh dosen dan pegawai Unpar, namun aspek geografis termasuk demografis mahasiswa Unpar membuat pihaknya khawatir perkuliahan tatap muka berpotensi memunculkan klaster COVID-19.
"Pertimbangan berikutnya kenapa kita tidak buru-buru PTM itu juga erat kaitannya dengan aspek kesehatan. Komposisi demografis dan geografis, ada mahasiswa dari Yogyakarta, Sumatera yang datang ke sini. Apakah mereka sudah divaksin? atau orang-orang di tempat mereka tinggal di sekitar kampus juga sudah divaksin? tempat tinggal mereka aman atau tidak? kita perlu antisipasi dan wanti-wanti soal klaster perguruan tinggi," papar Mangadar.
Lihat Juga :