Tim Mahasiswa Teknik UGM Raih Juara 1 Itera National Paper Competition 2021
Senin, 11 Oktober 2021 - 11:22 WIB
loading...
A
A
A
Selanjutnya, Sasa menyampaikan Badan Pusat Statistik mencatat 16.592.187,00 ton bauksit pada 2021 dan sebagian besar berada di wilayah Sumatra (BPS, 2021). Melalui Perjanjian Paris 2015, Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi karbon sebanyak 29% pada tahun 2030 dengan upaya sendiri.
“Oleh karena itu, diperlukan sebuah inovasi pemanfaatan limbah tailing bauksit sebagai bentuk pemanfaatan kembali dari limbah yang sudah tidak terpakai untuk mengatasi asap akibat bencana kebakaran hutan sekaligus menurunkan gas emisi karbon. Kami memberi nama 'REPAF',” terang Sasa.
Komponen pada REPAF menurut Sasa terdiri dari beberapa bagian. Pertama, tempat menaruh zeolit yang sudah dimampatkan dari hasil proses kristalisasi. Kedua, jaring-jaring dan ketiga tiang dari alumunium berbentuk seperti panel billboard.
“Sistem REPAF mampu menyerap gas CO2 dengan kapasitas penyerapan mencapai 6.4 mmol/g zeolit, jika dibandingkan dengan zeolit berbahan baku alam aktif dengan kapasitas penyerapan CO2 1,165 mmol/g zeolit, REPAF memiliki efektivitas penyerapan CO2 yang lebih tinggi. Penerapan sistem REPAF terbukti layak secara ekonomi. Hal ini didasarkan pada hasil analisis keekonomian yang menunjukkan adanya Return of Investment sekitar 40% dan keuntungan dari hasil penjualan dapat menyejahterakan masyarakat sekitar yaitu menurut BEP adalah setahun setelah pemasangan REPAF,” papar Sasa.
Dari pengajuan inovasi ini, Sasa dkk. berharap bisa menjadi solusi bagi pemerintah dalam menangani kasus kebakaran hutan di Indonesia sehingga tidak sekadar mengandalkan pemadam kebakaran dan hujan yang datang sewaktu-waktu. “Selain itu, inovasi kami juga dapat membantu menyukseskan program SGDs tahun 2030,” tutur Sasa.
“Oleh karena itu, diperlukan sebuah inovasi pemanfaatan limbah tailing bauksit sebagai bentuk pemanfaatan kembali dari limbah yang sudah tidak terpakai untuk mengatasi asap akibat bencana kebakaran hutan sekaligus menurunkan gas emisi karbon. Kami memberi nama 'REPAF',” terang Sasa.
Komponen pada REPAF menurut Sasa terdiri dari beberapa bagian. Pertama, tempat menaruh zeolit yang sudah dimampatkan dari hasil proses kristalisasi. Kedua, jaring-jaring dan ketiga tiang dari alumunium berbentuk seperti panel billboard.
“Sistem REPAF mampu menyerap gas CO2 dengan kapasitas penyerapan mencapai 6.4 mmol/g zeolit, jika dibandingkan dengan zeolit berbahan baku alam aktif dengan kapasitas penyerapan CO2 1,165 mmol/g zeolit, REPAF memiliki efektivitas penyerapan CO2 yang lebih tinggi. Penerapan sistem REPAF terbukti layak secara ekonomi. Hal ini didasarkan pada hasil analisis keekonomian yang menunjukkan adanya Return of Investment sekitar 40% dan keuntungan dari hasil penjualan dapat menyejahterakan masyarakat sekitar yaitu menurut BEP adalah setahun setelah pemasangan REPAF,” papar Sasa.
Dari pengajuan inovasi ini, Sasa dkk. berharap bisa menjadi solusi bagi pemerintah dalam menangani kasus kebakaran hutan di Indonesia sehingga tidak sekadar mengandalkan pemadam kebakaran dan hujan yang datang sewaktu-waktu. “Selain itu, inovasi kami juga dapat membantu menyukseskan program SGDs tahun 2030,” tutur Sasa.
(mpw)
Lihat Juga :