Inovatif, Mahasiswa UB Buat Baterai Mobil Listrik dari Tempurung Kelapa
Jum'at, 15 Oktober 2021 - 22:16 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Guru Besar FK Unusa: PJJ Usik Nurani Pendidikan Dokter
Melihat 60% komponen mobil listrik adalah baterai. Maka baterai yang digunakan saat ini adalah lithium ion yang rechargeable (dapat diisi ulang). Baterai lithium-ion memiliki siklus hidup yang panjang, kapasitas penyimpanan yang besar dan tentunya ramah lingkungan. Tetapi memiliki kelemahan karena harganya yang mahal.
Maka dari itu, tim peneliti menggunakan substitusi bahan yang melimpah, luas permukaan dan porinya yang bagus dan berasal dari limbah tempurung kelapa (biochar) untuk digunakan sebagai pengganti grafit pada anoda baterai lithium-ion.
Menurut tim peneliti, adanya penggantian bahan yang awalnya grafit menjadi biochar tempurung kelapa secara ekonomis mampu menurunkan harga baterai lithium-ion yang mahal, bahkan kapasitas simpan spesifiknya yang tinggi (372 mAh/g) dan mampu menghasilkan sel baterai berkerapatan energi tinggi (0.1 A/g).
Pada sisi lain struktur pori tempurung kelapa yang besar berpotensi untuk meningkatkan performa baterai lithium-ion.
“Inovasi yang kami teliti ini sangat mendukung program Sustainable Low Carbon Development, karena baterai lithium-ion sangat dianjurkan untuk digunakan pada mobil listrik dengan banyak keunggulannya. Selain itu, adanya inovasi kami juga mampu merealisasikan program zero emission di Indonesia beberapa tahun ke depan,” kata Aditya melansir laman resmi UB di ub.ac.id, Jumat (15/10/2021).
Melihat 60% komponen mobil listrik adalah baterai. Maka baterai yang digunakan saat ini adalah lithium ion yang rechargeable (dapat diisi ulang). Baterai lithium-ion memiliki siklus hidup yang panjang, kapasitas penyimpanan yang besar dan tentunya ramah lingkungan. Tetapi memiliki kelemahan karena harganya yang mahal.
Maka dari itu, tim peneliti menggunakan substitusi bahan yang melimpah, luas permukaan dan porinya yang bagus dan berasal dari limbah tempurung kelapa (biochar) untuk digunakan sebagai pengganti grafit pada anoda baterai lithium-ion.
Menurut tim peneliti, adanya penggantian bahan yang awalnya grafit menjadi biochar tempurung kelapa secara ekonomis mampu menurunkan harga baterai lithium-ion yang mahal, bahkan kapasitas simpan spesifiknya yang tinggi (372 mAh/g) dan mampu menghasilkan sel baterai berkerapatan energi tinggi (0.1 A/g).
Pada sisi lain struktur pori tempurung kelapa yang besar berpotensi untuk meningkatkan performa baterai lithium-ion.
“Inovasi yang kami teliti ini sangat mendukung program Sustainable Low Carbon Development, karena baterai lithium-ion sangat dianjurkan untuk digunakan pada mobil listrik dengan banyak keunggulannya. Selain itu, adanya inovasi kami juga mampu merealisasikan program zero emission di Indonesia beberapa tahun ke depan,” kata Aditya melansir laman resmi UB di ub.ac.id, Jumat (15/10/2021).
Lihat Juga :