Untung, Guru Honorer Tanpa Dua Tangan yang Banjir Penghargaan dari Daerah dan Pusat
Jum'at, 17 Desember 2021 - 21:54 WIB
loading...
A
A
A
Untung mengaku dalam berbagai aktivitas, termasuk mengajar selama ini menggunakan kedua kakinya. Hal ini tak menghalangi semangatnya, walaupun terlahir dalam keadaan difabel.
Semangat meraih pendidikannya ini dia dapat sejak kecil. Mulanya sang ibu enggan memberikannya izin sekolah karena khawatir Untung diejek teman-temannya karena keadaannya."Dulu waktu saya kecil ibu saya melarang untuk sekolah. Tapi saya diam-diam pergi (sekolah) dengan kakak saya," ujarnya.
Akan tetapi di tengah keterbatasannya sebagai difabel, Untung tidak berputus asa. Dia terus menggali potensi dirinya dan guru adalah cita-cita mulianya. "Kalau omongan orang tentang saya (Difabel) itu sudah biasa. Cuma bagaimana caranya saya bisa seperti yang lain, punya pendidikan, pekerjaan, hingga menikah dan punya anak," tuturnya.
Ayah dua anak ini mengatakan, sebagai guru dia tidak mengharapkan lebih. Honor yang didapat perbulannya hanya Rp600 ribu, tapi itu semua tetap Untung jalani dan bersyukur. "Kalau dibilang kurang honor segitu nggak akan ada habisnya. Bersyukur saja yang penting kan berkahnya," ujarnya.
Berkah menjadi guru dia dapatkan dari berbagai pihak. Bukan hanya penghargaan dari Madrasah Award dan ADIKTIS 2021 saja, beberapa pihak telah membantu Untung dan keluarganya pergi umrah dan haji.
Untung berpesan, jika niatnya mengajar tulus dari hati. Apalagi dia ingin menginspirasi para difabel di seluruh Indonesia agar tidak berputus asa dan terus berkarya, meski memiliki keterbatasan."Kita mengajar untuk masa depan, bukan masa lalu. Saya selalu bilang sama teman-teman difabel, agar tidak berputus asa dan tetap semangat," tuturnya.
Sementara, Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Prof. Muhammad Ali Ramdhani mengatakan, agar guru madrasah seperti Untung tidak mematahkan semangatnya. Selain itu, Untung juga menjadi motivasi bagi semua guru, sehingga tetap berinovasi dalam segala hal dan di situasi apapun.
Ramdhani mendorong lembaga pendidikan agar mengedepankan pola pendekatan inovasi. hal ini untuk memberikan yang terbaik pada anak negeri dengan tidak hanya berpikir out of the box tapi harus without the box.
Semangat meraih pendidikannya ini dia dapat sejak kecil. Mulanya sang ibu enggan memberikannya izin sekolah karena khawatir Untung diejek teman-temannya karena keadaannya."Dulu waktu saya kecil ibu saya melarang untuk sekolah. Tapi saya diam-diam pergi (sekolah) dengan kakak saya," ujarnya.
Akan tetapi di tengah keterbatasannya sebagai difabel, Untung tidak berputus asa. Dia terus menggali potensi dirinya dan guru adalah cita-cita mulianya. "Kalau omongan orang tentang saya (Difabel) itu sudah biasa. Cuma bagaimana caranya saya bisa seperti yang lain, punya pendidikan, pekerjaan, hingga menikah dan punya anak," tuturnya.
Ayah dua anak ini mengatakan, sebagai guru dia tidak mengharapkan lebih. Honor yang didapat perbulannya hanya Rp600 ribu, tapi itu semua tetap Untung jalani dan bersyukur. "Kalau dibilang kurang honor segitu nggak akan ada habisnya. Bersyukur saja yang penting kan berkahnya," ujarnya.
Berkah menjadi guru dia dapatkan dari berbagai pihak. Bukan hanya penghargaan dari Madrasah Award dan ADIKTIS 2021 saja, beberapa pihak telah membantu Untung dan keluarganya pergi umrah dan haji.
Untung berpesan, jika niatnya mengajar tulus dari hati. Apalagi dia ingin menginspirasi para difabel di seluruh Indonesia agar tidak berputus asa dan terus berkarya, meski memiliki keterbatasan."Kita mengajar untuk masa depan, bukan masa lalu. Saya selalu bilang sama teman-teman difabel, agar tidak berputus asa dan tetap semangat," tuturnya.
Sementara, Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Prof. Muhammad Ali Ramdhani mengatakan, agar guru madrasah seperti Untung tidak mematahkan semangatnya. Selain itu, Untung juga menjadi motivasi bagi semua guru, sehingga tetap berinovasi dalam segala hal dan di situasi apapun.
Ramdhani mendorong lembaga pendidikan agar mengedepankan pola pendekatan inovasi. hal ini untuk memberikan yang terbaik pada anak negeri dengan tidak hanya berpikir out of the box tapi harus without the box.
Lihat Juga :