Dosen Universitas Esa Unggul Latih Kemampuan Guru SMP Al Chasanah
Minggu, 19 Desember 2021 - 22:46 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Prospek Kerja Sastra Inggris, Gajinya Capai Rp271 Juta per Bulan
Kegiatan yang juga melibatkan sekitar 40 orang mahasiswa dari Fikom, FKIP dan FPsi ini diselengarakan dalam beberapa tahap kegiatan.
“Awalnya kami melakukan tahap pengkondisian, dilanjut tahap satu sosialisasi konsep dan praktik model pengembangan kompetensi pedagogik, tahap dua refleksi diri dan pemetaan kekuatan dan kelemahan, tahap tiga peningkatan dan pengembangan pengetahuan dan keterampilan, tahap empat pengukuran dan evaluasi,” katanya.
Anggota satu tim dosen Yuli Asmi Rozali saat memberikan pelatihan peningkatan pedagogik bertopik 'Pengajaran Efektif' memaparkan bahwa emosi guru berkontribusi terhadap sikap dan kesiapan mendukung atau menolak untuk mengerti, memahami, menerima anak didik dan menjadi tolok ukuran awal dalam menjalankan relasi.
“Proses interaksi pembelajaran sangat dominan dengan peran guru sebagai komunikator pembelajaran yang terkait dengan karakteristik emosi. Guru yang memiliki emosi tidak terkendali tidak dapat mengontrol sikap dan kecerdasan intelektualnya,” paparnya.
Pada kesempatan yang sama, anggota dua tim dosen Yumeldasari memaparkan mengenai konsep pola komunikasi instruksional. Komunikasi instruksional dapat menjadi sebuah pola terstruktur yang menjadi sarana pembelajaran dan hubungan pedagogik guru dengan peserta didik.
Kegiatan yang juga melibatkan sekitar 40 orang mahasiswa dari Fikom, FKIP dan FPsi ini diselengarakan dalam beberapa tahap kegiatan.
“Awalnya kami melakukan tahap pengkondisian, dilanjut tahap satu sosialisasi konsep dan praktik model pengembangan kompetensi pedagogik, tahap dua refleksi diri dan pemetaan kekuatan dan kelemahan, tahap tiga peningkatan dan pengembangan pengetahuan dan keterampilan, tahap empat pengukuran dan evaluasi,” katanya.
Anggota satu tim dosen Yuli Asmi Rozali saat memberikan pelatihan peningkatan pedagogik bertopik 'Pengajaran Efektif' memaparkan bahwa emosi guru berkontribusi terhadap sikap dan kesiapan mendukung atau menolak untuk mengerti, memahami, menerima anak didik dan menjadi tolok ukuran awal dalam menjalankan relasi.
“Proses interaksi pembelajaran sangat dominan dengan peran guru sebagai komunikator pembelajaran yang terkait dengan karakteristik emosi. Guru yang memiliki emosi tidak terkendali tidak dapat mengontrol sikap dan kecerdasan intelektualnya,” paparnya.
Pada kesempatan yang sama, anggota dua tim dosen Yumeldasari memaparkan mengenai konsep pola komunikasi instruksional. Komunikasi instruksional dapat menjadi sebuah pola terstruktur yang menjadi sarana pembelajaran dan hubungan pedagogik guru dengan peserta didik.
Lihat Juga :