Di Era Digital, DPR Dorong Balai Pustaka Lakukan Transformasi Bisnis
Senin, 14 Februari 2022 - 16:39 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Mau Kuliah di Universitas Luar Negeri, Ini Negara Terbaik untuk Kawasan Asia
Tapi, Balai Pustaka diharapkan tidak sekadar mengubah model bisnis tradisionalnya menjadi digital melainkan bagaimana mereka kemudian mendorong pembacanya untuk berpartisipasi dalam proses transformasi itu, antara lain dengan membangun komunitasnya, dan menjangkau lebih banyak pembacanya dan memberikan pendapatan baru bagi Balai Pustaka.
“Balai Pustaka memiliki kekuatan sejarah dan potensi buku-buku, majalah dan dokumen penting karya para tokoh, penulis atau sastrawan besar di Indonesia. Balai Pustaka berperan penting dalam membangun karakter bangsa, membangun kecerdasan bangsa, termasuk melahirkan budaya membaca digital,” sambungnya.
Evita mengakui sudah ada upaya untuk membuat konten dalam bentuk digital baik itu e-book, e-library dan lainnya, tapi belum menjadi sebuah model bisnis kecuali masih terbatas dan tidak komprehensif.
Coba belajar bagaimana perusahaan penerbitan dunia melakukan transformasi, jangan tanggung-tanggung. Termasuk dalam pengembangan minat baca, ke depan tentunya tidak bisa lagi mengandalkan taman bacaan dalam bentuk cetak tapi mengikuti budaya baca baru, dan perpustakaan digital baru.
“Siapa sekarang yang kita lihat menenteng-nenteng buku cetak, tapi sudah buku digital yang bisa dibaca di laptop, smartphone, tab dan lainnya. Kita mau yang mereka baca digital itu adalah buku-buku digital terbitan Balai Pustaka, entah saat di jalan, saat liburan atau dimanapun,” sambung Evita lagi.
Tapi, Balai Pustaka diharapkan tidak sekadar mengubah model bisnis tradisionalnya menjadi digital melainkan bagaimana mereka kemudian mendorong pembacanya untuk berpartisipasi dalam proses transformasi itu, antara lain dengan membangun komunitasnya, dan menjangkau lebih banyak pembacanya dan memberikan pendapatan baru bagi Balai Pustaka.
“Balai Pustaka memiliki kekuatan sejarah dan potensi buku-buku, majalah dan dokumen penting karya para tokoh, penulis atau sastrawan besar di Indonesia. Balai Pustaka berperan penting dalam membangun karakter bangsa, membangun kecerdasan bangsa, termasuk melahirkan budaya membaca digital,” sambungnya.
Evita mengakui sudah ada upaya untuk membuat konten dalam bentuk digital baik itu e-book, e-library dan lainnya, tapi belum menjadi sebuah model bisnis kecuali masih terbatas dan tidak komprehensif.
Coba belajar bagaimana perusahaan penerbitan dunia melakukan transformasi, jangan tanggung-tanggung. Termasuk dalam pengembangan minat baca, ke depan tentunya tidak bisa lagi mengandalkan taman bacaan dalam bentuk cetak tapi mengikuti budaya baca baru, dan perpustakaan digital baru.
“Siapa sekarang yang kita lihat menenteng-nenteng buku cetak, tapi sudah buku digital yang bisa dibaca di laptop, smartphone, tab dan lainnya. Kita mau yang mereka baca digital itu adalah buku-buku digital terbitan Balai Pustaka, entah saat di jalan, saat liburan atau dimanapun,” sambung Evita lagi.
Lihat Juga :