Kisah Chintya, Putri Tukang Ojek yang Ajak Perempuan Berani Bermimpi di Kancah Global
Minggu, 13 Maret 2022 - 21:25 WIB
loading...
Chintya Maulini bersama novel best seller karyanya yang berjudul MY CLOUD: Cahaya Cerita Chayra. Foto/Dok/Humas UP
A
A
A
JAKARTA - Survey yang dilakukan oleh United Nations Development Programme (UNDP) dan dipublikasikan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2021 lalu menunjukkan angka indeks ketimpangan gender Indonesia tertinggi di ASEAN. Artinya, Indonesia termasuk negara dengan pencapaian pembangunan gender yang belum optimal dibandingkan negara ASEAN lainnya.
Skor GII Indonesia mencapai 0.48 poin. Jauh tertinggal dari negara tetangganya Singapura yang hanya menyentuh angka 0.065 poin, dan Malaysia di angka 0.253 poin. Ada pun, indikator penilaian dalam GII di antaranya: kesetaraan capaian pendidikan dan kesempatan kerja.
Baca juga: Beasiswa Talenta Unggul UMM: Bebaskan SPP Camaba Berprestasi hingga Lulus
Sementara itu, pada 2020 lalu, World Bank melakukan sebuah studi untuk menganalisa berbagai permasalahan ketimpangan gender di dunia pendidikan Indonesia. Studi yang didukung oleh Pemerintah Australia tersebut menemukan bahwa di berbagai daerah di Indonesia, perempuan mengalami ketertinggalan dalam pendidikan.
Meski pun anak perempuan berprestasi lebih baik daripada anak laki-laki di sekolah, jumlah perempuan yang bekerja ternyata jauh lebih sedikit. Perempuan juga cenderung mendapatkan penghasilan yang lebih rendah, dan lebih sedikit mendapatkan kesempatan promosi jabatan.
Adalah Chintya Maulini, siswi asal SMA Negeri Sumatera Selatan, yang memiliki mimpi untuk mendukung pengentasan ketimpangan gender khususnya dalam hal pemerataan pendidikan bagi perempuan di daerah asalnya. Kini, ia selangkah lebih dekat menuju mimpinya, melalui beasiswa Sekolah Unggulan Nusantara (SUN) dari Universitas Pertamina. Ia akan melanjutkan pendidikan tinggi di Program Studi Komunikasi.
Baca juga: 10 PTN-PTS Terbaik Indonesia Versi Webometrics 2022, Mana Kampus Tujuanmu?
Skor GII Indonesia mencapai 0.48 poin. Jauh tertinggal dari negara tetangganya Singapura yang hanya menyentuh angka 0.065 poin, dan Malaysia di angka 0.253 poin. Ada pun, indikator penilaian dalam GII di antaranya: kesetaraan capaian pendidikan dan kesempatan kerja.
Baca juga: Beasiswa Talenta Unggul UMM: Bebaskan SPP Camaba Berprestasi hingga Lulus
Sementara itu, pada 2020 lalu, World Bank melakukan sebuah studi untuk menganalisa berbagai permasalahan ketimpangan gender di dunia pendidikan Indonesia. Studi yang didukung oleh Pemerintah Australia tersebut menemukan bahwa di berbagai daerah di Indonesia, perempuan mengalami ketertinggalan dalam pendidikan.
Meski pun anak perempuan berprestasi lebih baik daripada anak laki-laki di sekolah, jumlah perempuan yang bekerja ternyata jauh lebih sedikit. Perempuan juga cenderung mendapatkan penghasilan yang lebih rendah, dan lebih sedikit mendapatkan kesempatan promosi jabatan.
Adalah Chintya Maulini, siswi asal SMA Negeri Sumatera Selatan, yang memiliki mimpi untuk mendukung pengentasan ketimpangan gender khususnya dalam hal pemerataan pendidikan bagi perempuan di daerah asalnya. Kini, ia selangkah lebih dekat menuju mimpinya, melalui beasiswa Sekolah Unggulan Nusantara (SUN) dari Universitas Pertamina. Ia akan melanjutkan pendidikan tinggi di Program Studi Komunikasi.
Baca juga: 10 PTN-PTS Terbaik Indonesia Versi Webometrics 2022, Mana Kampus Tujuanmu?
Lihat Juga :