Kisah Tiara, Wisudawan Termuda ITS Lulus di Usia 19 Tahun
Sabtu, 26 Maret 2022 - 08:29 WIB
loading...
A
A
A
Selain menyukai ilmu berhitung, ia juga suka berorganisasi. Selama 3,5 tahun berkuliah di ITS, Tiara mengatakan cukup puas dalam kontribusinya menjabat di berbagai organisasi di ITS. Bahkan ia pernah menjadi ketua di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) ITS Foreign Language Society (IFLS) 2020/2021 dan ketua Lembaga Minat Bakat (LMB) ITS 2021/2022.
Selain berkarya dalam kontribusi manajerial, penghobi jalan-jalan dan belajar ini turut menyalurkan kontribusinya di departemen dan mengembangkan kemampuannya selama belajar ilmu statistika. Hal ini ditunjukkannya dengan menjadi asisten dosen di mata kuliah Statistical Quality Control (2021) dan Statistics Data Mining (2022) serta mengikuti program Kerja Praktik (KP) dan magang di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek).
“Kemarin di sana (Kemdikbudristek, red) sempat menjadi tim satuan tugas (satgas) penjamin mutu pendidikan dan tim perancangan yang bertugas dalam analisis kebijakan, analisis dampak pandemi terhadap akses pendidikan, dan lain-lain,” terang wisudawan yang telah mendapatkan beasiswa Fresh Graduate S2 dari ITS ini.
Dari pengalamannya selama berkecimpung di ilmu sosial kependudukan tersebut, Tiara membawanya sebagai topik Tugas Akhir (TA)-nya yang berjudul Analisis Hubungan Pelaksanaan Pendidikan di Masa Pandemi terhadap Kualitas Pendidikan Sekolah Menegah Atas (SMA) Menggunakan Structural Equation Modelling-Partial Least Square (SEM-PLS).
“TA saya membahas tentang dampak perubahan proses pembelajaran ke kualitas pendidikan, dengan wilayah Pulau Jawa dan Indonesia Timur,” jelas gadis yang juga kerja paruh waktu di Statistik Service Center ITS. Di TA tersebut, menurut Tiara, berisi tentang mencari faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan di tempat tersebut itu apa saja, dan dicari perbedaannya.
Dengan semua langkah cepat yang dilaluinya, ia masih berpegang teguh untuk mengeksplor semua hal tapi tidak perlu menjadi ahli, minimal di setiap bidangnya ada teman yang bisa diajak diskusi. Ia berpesan kepada adik-adik di bawahnya untuk perbanyak relasi di mana saja serta tetap konsisten mengerjakan TA yang cukup melelahkan.
“Tipsnya adalah apapun progress-nya tetap dilakukan dan kabari dosen bersangkutan, seringlah untuk diskusi dengan dosen, tidak perlu cepat-cepat semua pasti akan ada waktunya,” tutup mahasiswi yang lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,57 ini.
Selain berkarya dalam kontribusi manajerial, penghobi jalan-jalan dan belajar ini turut menyalurkan kontribusinya di departemen dan mengembangkan kemampuannya selama belajar ilmu statistika. Hal ini ditunjukkannya dengan menjadi asisten dosen di mata kuliah Statistical Quality Control (2021) dan Statistics Data Mining (2022) serta mengikuti program Kerja Praktik (KP) dan magang di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek).
“Kemarin di sana (Kemdikbudristek, red) sempat menjadi tim satuan tugas (satgas) penjamin mutu pendidikan dan tim perancangan yang bertugas dalam analisis kebijakan, analisis dampak pandemi terhadap akses pendidikan, dan lain-lain,” terang wisudawan yang telah mendapatkan beasiswa Fresh Graduate S2 dari ITS ini.
Dari pengalamannya selama berkecimpung di ilmu sosial kependudukan tersebut, Tiara membawanya sebagai topik Tugas Akhir (TA)-nya yang berjudul Analisis Hubungan Pelaksanaan Pendidikan di Masa Pandemi terhadap Kualitas Pendidikan Sekolah Menegah Atas (SMA) Menggunakan Structural Equation Modelling-Partial Least Square (SEM-PLS).
“TA saya membahas tentang dampak perubahan proses pembelajaran ke kualitas pendidikan, dengan wilayah Pulau Jawa dan Indonesia Timur,” jelas gadis yang juga kerja paruh waktu di Statistik Service Center ITS. Di TA tersebut, menurut Tiara, berisi tentang mencari faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan di tempat tersebut itu apa saja, dan dicari perbedaannya.
Dengan semua langkah cepat yang dilaluinya, ia masih berpegang teguh untuk mengeksplor semua hal tapi tidak perlu menjadi ahli, minimal di setiap bidangnya ada teman yang bisa diajak diskusi. Ia berpesan kepada adik-adik di bawahnya untuk perbanyak relasi di mana saja serta tetap konsisten mengerjakan TA yang cukup melelahkan.
“Tipsnya adalah apapun progress-nya tetap dilakukan dan kabari dosen bersangkutan, seringlah untuk diskusi dengan dosen, tidak perlu cepat-cepat semua pasti akan ada waktunya,” tutup mahasiswi yang lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,57 ini.
(nz)
Lihat Juga :