Orang Tua, Ini 6 Tips Mengenalkan Anak Berpuasa dari Dokter RSA UGM
Kamis, 21 April 2022 - 15:38 WIB
loading...
A
A
A
“Ketika dia mulai diajarkan untuk berpuasa, mulai kita jarangkan fase antar makan menjadi 4-6 jam. Kemudian nanti bertambah lagi jadi 8 jam, kemudian bertambah lagi jadi 10 jam, sampai pada akhirnya dia bisa fase puasa penuh,” kata dr. Fita.
Kedua adalah mempersiapkan makanan yang “kaya” dan sehat, baik sahur maupun berbuka. Kaya yang dimaksudkan disini adalah kepada nutrisi-nutrisi dalam makanan. Dokter Fita mengatakan bahwa komposisi antara karbohidrat, protein, dan lemak harus seimbang. Dengan kecukupan gizi disini, nutrisi anak dapat terpenuhi dan kuat menjalankan puasa.
Ketiga jangan berikan kompensasi berlebihan. Dokter Fita mengatakan bahwa puasa hanya menggeser waktu makan di hari-hari biasa. Dimana sarapannya itu dipagikan menjadi sahur; sementara makan siangnya disorekan menjadi berbuka; dan makan makan malamnya digeser menjadi setelah tarawih. Jadi jangan sampai ada kiat “balas dendam” atau penggandaan porsi makan ketika sahur, sebab hal itu sangat tidak disarankan.
Baca juga: Hebat, FT UI Juara Pertama Lomba Desain Jembatan NTU Singapura
“Kadang-kadang orang tua juga khawatir anaknya lapar, kemudian memaksa anaknya untuk makan lebih banyak pada saat berbuka atau pada saat sahur. Ini justru tidak direkomendasikan karena membuat anak merasa tidak nyaman dan akhirnya target dari puasanya jadi tidak tercapai,” tegas dr. Fita.
Keempat buatlah rutinitas yang sehat. Dokter Fita mengatakan bahwa aktivitas puasa juga semestinya diselingi atau diisi dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat, seperti mengaji bersama, pergi ke masjid bersama, merancang menu buka dan sahur bersama, dan lain sebagainya. Dokter Fita mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut akan dapat menyenangkan anak-anak sekaligus memotivasi mereka.
Kedua adalah mempersiapkan makanan yang “kaya” dan sehat, baik sahur maupun berbuka. Kaya yang dimaksudkan disini adalah kepada nutrisi-nutrisi dalam makanan. Dokter Fita mengatakan bahwa komposisi antara karbohidrat, protein, dan lemak harus seimbang. Dengan kecukupan gizi disini, nutrisi anak dapat terpenuhi dan kuat menjalankan puasa.
Ketiga jangan berikan kompensasi berlebihan. Dokter Fita mengatakan bahwa puasa hanya menggeser waktu makan di hari-hari biasa. Dimana sarapannya itu dipagikan menjadi sahur; sementara makan siangnya disorekan menjadi berbuka; dan makan makan malamnya digeser menjadi setelah tarawih. Jadi jangan sampai ada kiat “balas dendam” atau penggandaan porsi makan ketika sahur, sebab hal itu sangat tidak disarankan.
Baca juga: Hebat, FT UI Juara Pertama Lomba Desain Jembatan NTU Singapura
“Kadang-kadang orang tua juga khawatir anaknya lapar, kemudian memaksa anaknya untuk makan lebih banyak pada saat berbuka atau pada saat sahur. Ini justru tidak direkomendasikan karena membuat anak merasa tidak nyaman dan akhirnya target dari puasanya jadi tidak tercapai,” tegas dr. Fita.
Keempat buatlah rutinitas yang sehat. Dokter Fita mengatakan bahwa aktivitas puasa juga semestinya diselingi atau diisi dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat, seperti mengaji bersama, pergi ke masjid bersama, merancang menu buka dan sahur bersama, dan lain sebagainya. Dokter Fita mengatakan bahwa kegiatan-kegiatan tersebut akan dapat menyenangkan anak-anak sekaligus memotivasi mereka.
Lihat Juga :