Cerita Siska, Anak Tukang Jahit Raih Gelar PhD dan Berkarier di Prancis

Jum'at, 22 April 2022 - 14:37 WIB
loading...
Cerita Siska, Anak Tukang Jahit Raih Gelar PhD dan Berkarier di Prancis
Siska Hadani, anak tukang jahit di Kabupaten Solok yang sukses menyabet titel S-3 dan berkarier di Prancis. Foto: Antara
A A A
JAKARTA - Kisah Siska Hamdani , anak tukang jahit asal Kabupaten Solok, Sumatera Barat menamatkan pendidikan hingga jenjang S-3 di luar negeri patut dijadikan contoh bagi masyarakat. Di tengah keterbatasan ekonomi karena hanya terlahir dari keluarga sederhana, Siska tidak patah arang untuk bersekolah tinggi hingga mampu mewujudkan cita-cita terbaik.

Ayah Siska Hamdani diketahui penjahit pakaian di Nagari Guguk, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Perempuan kelahiran 25 Januari 1980 itu telah menunjukkan prestasi gemilang ketika menempuh pendidikan SDN 01 Jawi-Jawi di Kabupaten Solok dengan meraih juara umum di sekolahnya.

Baca juga: Kisah Olivia Nike, Anak Sopir Bus yang Berhasil Lulus Cumlaude

Anak dari pasangan Yulizar (69) dan almarhumah Yasma Erni itu tamat SD pada 1992. Siska melanjutkan sekolah ke SMP 3 Gunung Talang. Di SMP, ia berhasil meraih juara umum dan juga sering dilibatkan pihak sekolah untuk mengikuti lomba P4 tingkat provinsi dan lomba lomba pidato Bahasa Inggris.

Menyelesaikan SMP pada 1995, Siska kemudian melanjutkan sekolah ke Kota Padang, yaitu Sekolah Menengah Analisis Kimia Padang (SMAKPA).

Di sekolah yang berada di bawah Kementerian Perindustrian itu, Siska juga mendapatkan beasiswa gratis uang SPP, karena meraih juara umum sejak dari catur wulan III. Saat masuk SMAKPA tak sedikit cemooh dari orang kampung yang ia terima.

Baca juga: Sederet Jurusan Kuliah Bergaji Fantastis hingga Rp100 Juta per Bulan, Tertarik?

Setelah menamatkan pendidikan di SMAKPA ia pun melanjutkan kuliah ke Akademi Teknologi Industri Padang (ATIP). Di kampus ATIP Siska mendapatkan beasiswa semester gratis dari Bumi Asih, karena meraih nilai IP rata-rata 3,98 hingga 4,0.

Bahkan, berkat kecerdasan yang dimilikinya, ia berhasil menamatkan kuliah dalam waktu 2,5 tahun dari rata-rata masa kuliah di ATIP empat tahun.

Setelah tamat dari ATIP, ia banyak mendapat nasihat dari orang-orang hebat yang merupakan akademisi di Unand, seperti Prof Novesar Jamarun, yang pernah menjadi Pembantu Rektor I Unand 2006-2010, dosen jurusan kimia Unand Zam Sibar dan almarhum Rusdi Jamal yang pernah menjadi Wakil Rektor I Unand.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1910 seconds (11.252#12.26)