Meramu Kurikulum, Jalan Masuk Penuhi Tuntutan Zaman
Rabu, 22 Juni 2022 - 21:19 WIB
loading...
A
A
A
Kolokium tersebut membicarakan berbagai hal termasuk membicaraan kurikulum yang sesuai tuntutan masyarakat, baik jalur akademik (S1, S2, S3) maupun jalur profesi (psikolog umum, psikolog spesialis, psikolog sub/super spesialis). Dengan demikian lulusan akan mampu menjawab tantangan zaman.
Hal senada dinyatakan Ketua AP2TPI Zahrotur Rusyda Hinduan SPsi MOP PhD bahwa kolokium ini digelar untuk memastikan standar lulusan program studi pendidikan psikologi sama, baik lulus di Aceh maupun Papua, memiliki kompetensi, sikap, skill, knowledge yang sama.
Zahrotur menjelaskan pihaknya ingin membuat standar yang sama dengan cara membuat kebijakan hingga setiap prodi psikologi akan mengikuti kebijakan yang diturunkan. Kebijakan diturunkan dari Peraturan Pemerintah, isu-isu terkini. “Misalnya sekarang pascapandemi banyak layanan psikologi secara online maka kami ingin membuat standarnya. Agar layanan masyarakat mengikuti perkembangan dan kebutuhan pasar tetapi juga tetap terikat dengan etika. Menjaga etika sangat penting, “ tegasnya.
Adanya tuntutan zaman dalam layanan Psikolog juga dipaparkan Silverius yang menurutnya menjadi diskursus tersendiri.
“Metode pelayanan juga ada tuntutan yang berbeda. Di mana sekarang semua serba digital. Ini menjadi pertimbangan, akankah layanan model konsultasi psikolog juga akan mengikuti zaman, dengan cara online. Jika iya, bagaimana prosedurnya agar tetap sesuai dengan kode etik, “ ungkapnya.
Soal lain yang dibicarakan adalah bagaimana agar Pemerintah memiliki persamaan persepsi mengenai pentingnya kesehatan mental masyarakat menjadi indikator keberhasilan pembangunan. Ia mengaku sangat mengapresiasi apa yang dinyatakan Gubernur DKI Anies Baswedan bahwa kesehatan mental di kota besar sangat dibutuhkan. Kemajuan suatu kota tidak hanya diukur dari indikator ekonomi tetapi juga aspek kesehatan mental. Sehingga peran psikolog sangat diperlukan terutama layanan psikologi pendidikan dasar.
Hal senada dinyatakan Ketua AP2TPI Zahrotur Rusyda Hinduan SPsi MOP PhD bahwa kolokium ini digelar untuk memastikan standar lulusan program studi pendidikan psikologi sama, baik lulus di Aceh maupun Papua, memiliki kompetensi, sikap, skill, knowledge yang sama.
Zahrotur menjelaskan pihaknya ingin membuat standar yang sama dengan cara membuat kebijakan hingga setiap prodi psikologi akan mengikuti kebijakan yang diturunkan. Kebijakan diturunkan dari Peraturan Pemerintah, isu-isu terkini. “Misalnya sekarang pascapandemi banyak layanan psikologi secara online maka kami ingin membuat standarnya. Agar layanan masyarakat mengikuti perkembangan dan kebutuhan pasar tetapi juga tetap terikat dengan etika. Menjaga etika sangat penting, “ tegasnya.
Adanya tuntutan zaman dalam layanan Psikolog juga dipaparkan Silverius yang menurutnya menjadi diskursus tersendiri.
“Metode pelayanan juga ada tuntutan yang berbeda. Di mana sekarang semua serba digital. Ini menjadi pertimbangan, akankah layanan model konsultasi psikolog juga akan mengikuti zaman, dengan cara online. Jika iya, bagaimana prosedurnya agar tetap sesuai dengan kode etik, “ ungkapnya.
Soal lain yang dibicarakan adalah bagaimana agar Pemerintah memiliki persamaan persepsi mengenai pentingnya kesehatan mental masyarakat menjadi indikator keberhasilan pembangunan. Ia mengaku sangat mengapresiasi apa yang dinyatakan Gubernur DKI Anies Baswedan bahwa kesehatan mental di kota besar sangat dibutuhkan. Kemajuan suatu kota tidak hanya diukur dari indikator ekonomi tetapi juga aspek kesehatan mental. Sehingga peran psikolog sangat diperlukan terutama layanan psikologi pendidikan dasar.