Di Hadapan Mahasiswa HI-UII, Dubes Ukraina Ingatkan Peran Besar Penyair Chairil Anwar
Selasa, 19 Juli 2022 - 10:44 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Bangga! Pelajar Indonesia Raih 5 Medali di Olimpiade Matematika Dunia
Tekanan terhadap Bahasa semakin keras di tahun 1847 ketika karya-karya sastra Ukraina seperti Shevchenko, Kostomarov, Kulish, dan sebagainya, dilarang oleh Rusia, pembantaian budayawan Ukraina tahun 1930-an dan puncaknya ketika Konferensi Tashkent tahun 1979 memutuskan bahasa Rusia adalah bahasa seluruh wilayah Uni Soviet.
Dalam sambutannya, Rektor UII, Prof. Fathul Wahid menyebutkan bahwa sejalan dengan pemerintah, UII selalu berkomitmen untuk menjalankan amanat konstitusi UUD 1945 untuk mewujudkan perdamaian dunia.
“UII juga bersimpati atas krisis kemanusiaan yang muncul di Ukraina sebagai konsekuensi dari adanya perang yang berkelanjutan. Rektor UII juga menyatakan bahwa dunia harus mengecam segala bentuk agresi yang mengancam kemanusiaan dan perdamaian dunia,” tegasnya.
Hubungan diplomatik Indonesia dan Ukraina telah terjalin sejak tahun 1992 di mana kedua negara telah melakukan kerja sama yang baik dalam bidang ekonomi. Namun, kondisi krisis kemanusiaan yang terjadi memunculkan kekhawatiran. Bukan hanya karena hal tersebut menggoyahkan stabilitas Ukraina, namun juga berdampak signifikan pada stabilitas global.
Sedikitnya 400 orang peserta yang berasal dari kalangan sivitas akademika UII serta masyarakat umum mengikuti kegiatan yang diharapkan dapat membuat para peserta yang hadir lebih memahami mengenai permasalahan Ukraina secara objektif dan berimbang.
Tekanan terhadap Bahasa semakin keras di tahun 1847 ketika karya-karya sastra Ukraina seperti Shevchenko, Kostomarov, Kulish, dan sebagainya, dilarang oleh Rusia, pembantaian budayawan Ukraina tahun 1930-an dan puncaknya ketika Konferensi Tashkent tahun 1979 memutuskan bahasa Rusia adalah bahasa seluruh wilayah Uni Soviet.
Dalam sambutannya, Rektor UII, Prof. Fathul Wahid menyebutkan bahwa sejalan dengan pemerintah, UII selalu berkomitmen untuk menjalankan amanat konstitusi UUD 1945 untuk mewujudkan perdamaian dunia.
“UII juga bersimpati atas krisis kemanusiaan yang muncul di Ukraina sebagai konsekuensi dari adanya perang yang berkelanjutan. Rektor UII juga menyatakan bahwa dunia harus mengecam segala bentuk agresi yang mengancam kemanusiaan dan perdamaian dunia,” tegasnya.
Hubungan diplomatik Indonesia dan Ukraina telah terjalin sejak tahun 1992 di mana kedua negara telah melakukan kerja sama yang baik dalam bidang ekonomi. Namun, kondisi krisis kemanusiaan yang terjadi memunculkan kekhawatiran. Bukan hanya karena hal tersebut menggoyahkan stabilitas Ukraina, namun juga berdampak signifikan pada stabilitas global.
Sedikitnya 400 orang peserta yang berasal dari kalangan sivitas akademika UII serta masyarakat umum mengikuti kegiatan yang diharapkan dapat membuat para peserta yang hadir lebih memahami mengenai permasalahan Ukraina secara objektif dan berimbang.
Lihat Juga :