Mau Masuk Kampus Terbaik di Amerika dan Inggris? Cek Syarat yang Diperlukan
Selasa, 27 September 2022 - 13:49 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Tak Anggap Kuliah sebagai Beban, Alvin Jadi Wisudawan Terbaik ITS dengan IPK 3,96
Extracurricular & Leadership Mentor Anderson Tan menceritakan pengalaman pribadinya sebagai seorang pelajar Indonesia yang berhasil menembus universitas unggulan di Inggris dan menempuh bidang studi PPE (Philosophy, PoIitics, and Economics).
“Sejak kecil, saya menggemari video game yang berlatar belakang sejarah. Diplomasi juga menjadi topik yang saya sukai. Ketika saya berusia 14 tahun, saya mulai aktif mengikuti konferensi MUN (Model United Nations). Berpartisipasi aktif dalam konferensi MUN mengharuskan saya untuk banyak membaca berita dan buku yang berkaitan dengan hubungan internasional, sejarah, dan politik,” ujarnya.
“Saking senangnya saya membaca kumpulan berita dan buku-buku tersebut, tanpa saya sadari saya sudah menyelesaikan 20-30 buku dalam waktu singkat. Dalam esai yang saya tulis sebagai bagian dari aplikasi UCAS (Universities and College Admissions Service), saya mengutip, beropini, dan bahkan mengkritik buku-buku yang saya baca–inilah yang menunjukkan ketertarikan saya terhadap hubungan internasional dan tingginya antusiasme saya untuk dapat memelajarinya secara mendalam,” ungkap Anderson Tan.
Setiap pelajar, dengan berbekal motivasi, kesempatan, dan dukungan orang tua, pasti dapat mendalami bakat atau minatnya sehingga bakat atau minat tersebut menjadi sebuah kegiatan yang menghasilkan dampak positif. Selanjutnya, dengan bimbingan dari pakar pendidikan berpengalaman, kegiatan tersebut dapat bertransformasi menjadi profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan yang kuat untuk mengantarkannya menuju universitas kelas dunia.
Extracurricular & Leadership Mentor Anderson Tan menceritakan pengalaman pribadinya sebagai seorang pelajar Indonesia yang berhasil menembus universitas unggulan di Inggris dan menempuh bidang studi PPE (Philosophy, PoIitics, and Economics).
“Sejak kecil, saya menggemari video game yang berlatar belakang sejarah. Diplomasi juga menjadi topik yang saya sukai. Ketika saya berusia 14 tahun, saya mulai aktif mengikuti konferensi MUN (Model United Nations). Berpartisipasi aktif dalam konferensi MUN mengharuskan saya untuk banyak membaca berita dan buku yang berkaitan dengan hubungan internasional, sejarah, dan politik,” ujarnya.
“Saking senangnya saya membaca kumpulan berita dan buku-buku tersebut, tanpa saya sadari saya sudah menyelesaikan 20-30 buku dalam waktu singkat. Dalam esai yang saya tulis sebagai bagian dari aplikasi UCAS (Universities and College Admissions Service), saya mengutip, beropini, dan bahkan mengkritik buku-buku yang saya baca–inilah yang menunjukkan ketertarikan saya terhadap hubungan internasional dan tingginya antusiasme saya untuk dapat memelajarinya secara mendalam,” ungkap Anderson Tan.
Setiap pelajar, dengan berbekal motivasi, kesempatan, dan dukungan orang tua, pasti dapat mendalami bakat atau minatnya sehingga bakat atau minat tersebut menjadi sebuah kegiatan yang menghasilkan dampak positif. Selanjutnya, dengan bimbingan dari pakar pendidikan berpengalaman, kegiatan tersebut dapat bertransformasi menjadi profil ekstrakurikuler dan kepemimpinan yang kuat untuk mengantarkannya menuju universitas kelas dunia.
(nnz)
Lihat Juga :