Din Syamsuddin Ajak Milenial Muslim Rebut Kembali Supremasi Ilmu Pengetahuan
Sabtu, 04 Juli 2020 - 21:04 WIB
loading...
Prof Din Syamsuddin memberikan ceramah secara daring dalam wisuda siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 5 Surabaya. Foto: SINDONews/Ali Masduki
A
A
A
SURABAYA - Generasi hebat umat Islam pernah muncul pada abad ke-5 sampai abad ke-15. Selama 10 abad Islam memegang supremasi pengetahuan dengan bermunculan banyak tokoh hebat, seperti Ibnu Sina di bidang ilmu kedokteran atau Ibnu Khaldun ahli ilmu sosiologi.
Hal itu diungkapkan oleh Prof. Dr. K.H. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau Din Syamsuddin dalam ceramahnya secara daring dengan tema “Generasi Hebat dan Bermartabat Sepanjang Hayat". Menurutnya sudah satnya generasi muda muslim mampu merebut kembali supremasi kejayaan pengetahuan, tentunya dengan memiliki ilmu dan iman.
"Sebab dengan ilmu dan iman Allah SWT berjanji akan meningkatkan derajat seseorang,” katanya pada momentum wisuda siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 5 Surabaya (Spemma), Sabtu (4/7/2020).
(Baca: Din: Masalah Utama Pancasila Bukan Perumusan tapi Pengamalan)
Lebih lanjut Din mengatakan, tidak ada manusia bisa hebat dan bermartabat sepanjang hayat. Sebab, setiap manusia memiliki kurva hidup dari tumbuh, puncak dan menurun. “Menjadi hebat sepanjang hayat tidak mungkin, tapi yang mungkin melahirkan generasi-generasi hebat silih berganti,” ungkapnya.
Hal itu diungkapkan oleh Prof. Dr. K.H. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau Din Syamsuddin dalam ceramahnya secara daring dengan tema “Generasi Hebat dan Bermartabat Sepanjang Hayat". Menurutnya sudah satnya generasi muda muslim mampu merebut kembali supremasi kejayaan pengetahuan, tentunya dengan memiliki ilmu dan iman.
"Sebab dengan ilmu dan iman Allah SWT berjanji akan meningkatkan derajat seseorang,” katanya pada momentum wisuda siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 5 Surabaya (Spemma), Sabtu (4/7/2020).
(Baca: Din: Masalah Utama Pancasila Bukan Perumusan tapi Pengamalan)
Lebih lanjut Din mengatakan, tidak ada manusia bisa hebat dan bermartabat sepanjang hayat. Sebab, setiap manusia memiliki kurva hidup dari tumbuh, puncak dan menurun. “Menjadi hebat sepanjang hayat tidak mungkin, tapi yang mungkin melahirkan generasi-generasi hebat silih berganti,” ungkapnya.
Lihat Juga :