Infrastuktur Digital Masih Jadi Masalah Besar Dunia Pendidikan Tinggi

Minggu, 16 Oktober 2022 - 13:01 WIB
loading...
Infrastuktur Digital Masih Jadi Masalah Besar Dunia Pendidikan Tinggi
Eric Conrad, Regional Managing Director Worldwide Public Sector, ASEAN, AWS, dalam Seminar AWS Initiate di Jakarta, Jumat (14/10). Foto/Dok/Sevima
A A A
JAKARTA - Mencetak generasi bangsa yang mampu bersaing di era digital seperti saat ini, memerlukan dukungan fasilitas teknologi dan jaringan internet yang mumpuni. Ada berbagai manfaat yang menanti para pengguna teknologi, mulai dari kemampuan untuk mengakses berbagai macam pengetahuan, buku, hingga membantu pengelolaan kampus.

Oleh karena itu, tak sedikit perguruan tinggi yang telah mencanangkan transformasi digital di kampusnya. Namun, CEO SEVIMA Sugianto Halim mengungkapkan bahwa rencana digitalisasi tak jarang berhenti menjadi wacana karena satu hal: masalah infrastuktur. Terlebih bagi perguruan tinggi yang ada di luar pulau Jawa, di mana infrastruktur yang masih minim.

Baca juga: 28 Kampus Terbaik di Indonesia Menurut THE Impact Rankings 2022

Hal tersebut diungkapkan Halim dalam Seminar AWS Initiate di Hotel Langham Jakarta, Jumat (14/10/2022). Seminar tersebut dihadiri Plt Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbudristek Dr Sri Gunani Partiwi, Direktur Operasi Pos Indonesia Hariadi, Pimpinan Amazon Web Service, serta ratusan peserta seminar.

"Permasalahan perguruan tinggi kalau dilihat secara umum banyak faktor yang menjadi kendala adalah infrastruktur digital. Di Pulau Jawa mungkin sudah oke, kalau di luar jawa beda cerita. Jangankan internet, listrik saja ada yang tidak sampai 24 jam. Hal ini menghambat kampus untuk melakukan digitalisasi dan mengembangkan sistem akademik yang terintegrasi," kata Halim dalam acara Initiate Jakarta.

Cloud sebagai Solusi Masalah Infrastuktur

Walaupun masalah infrastuktur adalah masalah besar dan sudah terjadi sejak lama di Indonesia, Halim mengungkapkan bahwa bukan berarti hal ini tidak ada solusinya. Salah satu solusi tersebut menurut Halim adalah sistem akademik berbasis cloud (komputasi awan).

Baca juga: Wamenag: Pendidikan Berkualitas Kunci Utama untuk Generasi Emas 2045

Dengan sistem akademik berbasis cloud, data dan aplikasi perguruan tinggi seolah-olah akan disimpan di awan. Awan tersebut berupa kumpulan server dari penyedia layanan Cloud, yang telah terjamin jaringan infrastuktur, listrik, serta keamanan datanya. Sehingga perguruan tinggi bisa memiliki sistem akademik tanpa perlu harus mengembangkan server dan infrastuktur jaringannya sendiri.

"Menggunakan Sistem Akademik berbasis Cloud tidak perlu pusing urusan server dan listrik. Selain itu solusi cloud dihitung secara angka, lebih murah. Karena jika menggunakan server sendiri, ada hidden cost-nya lebih tinggi dan waktu yang terbuang untuk merawat server," ucapnya.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3659 seconds (11.210#12.26)