Guru Besar ITS Kembali Masuk Top 2% Scientist in the World 2022
Sabtu, 22 Oktober 2022 - 09:35 WIB
loading...
A
A
A
Pakar artificial intelligence (AI) pada bidang kesehatan ini pada 2022 menerbitkan satu jurnal terindeks Scopus Quartile 3 (Q3), lima jurnal terindeks Scopus Quartile 2 (Q2), dan sembilan jurnal terindeks Scopus paling tinggi yaitu Quartile 1 (Q1) yang juga memiliki impact factor WoS. Science Citation Index (SCI) dan Science Citation Index Expanded (SCIE) WoS merupakan indeks sitasi yang dikelola oleh Clarivate Analytics yang memiliki standar sitasi jurnal, di mana impact factor tinggi setara dengan Scopus percentile tinggi.
Selain jurnal, Riyan juga menghilirkan penelitian berupa pembuatan alat pendukung operasi otak berbasis AI yang disebut Stereotactic untuk menentukan secara akurat lokasi anatomi kecil di dalam otak. Penelitian ini dilakukan karena alat pendukung operasi Stereotactic masih bergantung pada produk impor dan harganya mahal.
“Dalam otak, banyak anatomi kecil, contohnya ventral intermediate (VIM) nucleus dengan ukuran hanya sekitar tiga milimeter, sehingga memerlukan alat tersebut dengan ketelitian tinggi,” ungkap dosen yang juga merupakan konsultan berpengalaman dalam audit sistem informasi ini.
Meskipun berfokus pada bidang AI serta signal and image processing, Riyan juga menguraikan pemanfaatan AI sejatinya bisa diaplikasikan pada berbagai teknologi lain seperti analisa bisnis, pengembangan teori graf, audit sistem informasi, hingga pendeteksi kecurangan yang bisa dilakukan secara daring. Lebih jauh, AI juga berpotensi untuk diterapkan pada pengembangan teknologi masa depan yaitu rekayasa genetika.
Baca juga: Jadwal Seleksi Guru PPPK 2022 Dirilis, Pendaftaran Dibuka 25 Oktober
Selain jurnal, Riyan juga menghilirkan penelitian berupa pembuatan alat pendukung operasi otak berbasis AI yang disebut Stereotactic untuk menentukan secara akurat lokasi anatomi kecil di dalam otak. Penelitian ini dilakukan karena alat pendukung operasi Stereotactic masih bergantung pada produk impor dan harganya mahal.
“Dalam otak, banyak anatomi kecil, contohnya ventral intermediate (VIM) nucleus dengan ukuran hanya sekitar tiga milimeter, sehingga memerlukan alat tersebut dengan ketelitian tinggi,” ungkap dosen yang juga merupakan konsultan berpengalaman dalam audit sistem informasi ini.
Meskipun berfokus pada bidang AI serta signal and image processing, Riyan juga menguraikan pemanfaatan AI sejatinya bisa diaplikasikan pada berbagai teknologi lain seperti analisa bisnis, pengembangan teori graf, audit sistem informasi, hingga pendeteksi kecurangan yang bisa dilakukan secara daring. Lebih jauh, AI juga berpotensi untuk diterapkan pada pengembangan teknologi masa depan yaitu rekayasa genetika.
Baca juga: Jadwal Seleksi Guru PPPK 2022 Dirilis, Pendaftaran Dibuka 25 Oktober
Lihat Juga :