Uhamka Gelar Peluncuran Buku Islam Syariat yang Ditulis Prof Haedar Nashir
Senin, 31 Oktober 2022 - 11:14 WIB
loading...
A
A
A
Pada sisi lainnya muncul juga gerakan-gerakan atau kelompok-kelompok Islam militan yang kaku dan keras. Gerakan tersebut bahkan memiliki cita-cita untuk membentuk negara Syariah atau negara Islam di dalam NKRI. Gerakan tersebut menyuarakan negara Khilafah dan menghidupkan kembali Piagam Jakarta.
"Saya lari ke situ, mengkaji gerakan Islam yang militan. Yang ingin kembali menghadirkan Islam yang menurut mereka itu Kaffah tetapi coraknya berbeda dengan arus utama yang selama ini sudah hidup seperti Muhammadiyah, NU, Al Irsyad dan seterusnya," kata Prof Haedar, Jumat (28/10/2022).
Lebih lanjut Prof Haedar mengatakan dalam bukunya ia menggunakan istilah Islam Syariat untuk menyebut kelompok Islam yang ingin menegakan syariat Islam dengan karakter militan, keras, kaku, eksklusif dan monolitik. Bahkan Haedar menyebut pandangan kelompok tersebut melahirkan neo puritanisme yang lebih keras, kaku, monolitik dibanding puritan masa lalu.
Hingga kemudian gerakan tersebut muncul ke politik yakni menginginkan negara Islam. Haedar menyebutnya dengan istilah reproduksi salafiyah ideologis atau menginginkan kembali ke era masa salaf namun bersifat perjuangan politik.
Kelompok tersebut berpandangan bahwa negara khilafah adalah sebagai format negara tunggal dan menolak atau menyalahkan format negara lainnya. Namun demikian kelompok dan gerakan militan tersebut telah ditolak berbagai negara.
"Gerakan ini ternyata di Saudi juga ditolak. Padahal Saudi negaranya Islam tapi bentuknya mamlakah, kerajaan. Kemudian di Mesir juga diusir karena berbeda dengan pandangan Mesir. Jadi jangankan di negara yang seperti Indonesia yang memilih Pancasila sebagai dasar negara yang sebenarnya sejalan dengan islam, di negara-negara itu juga dianggap sebagai gerakan yang menimbulkan masalah, bahkan ilegal," terangnya.
Dalam kesimpulannya, Prof Haedar mengatakan bahwa gerakan kelompok militan yang disebut dengan istilah reproduksi Salafiyah Ideologis dalam bukunya itu memiliki banyak masalah.
Selain itu menurutnya bila pola gerakan atau kelompok tersebut yang digunakan dalam Islam Indonesia atau di dunia maka justru akan terjadi penyempitan ruang Islam di berbagai negara. Selain itu kelompok tersebut juga memungkinkan banyak orang menjadi tidak nyaman dengan Islam, sehingga memilih agama lainnya sehingga muncul konversi agama.
"Saya lari ke situ, mengkaji gerakan Islam yang militan. Yang ingin kembali menghadirkan Islam yang menurut mereka itu Kaffah tetapi coraknya berbeda dengan arus utama yang selama ini sudah hidup seperti Muhammadiyah, NU, Al Irsyad dan seterusnya," kata Prof Haedar, Jumat (28/10/2022).
Lebih lanjut Prof Haedar mengatakan dalam bukunya ia menggunakan istilah Islam Syariat untuk menyebut kelompok Islam yang ingin menegakan syariat Islam dengan karakter militan, keras, kaku, eksklusif dan monolitik. Bahkan Haedar menyebut pandangan kelompok tersebut melahirkan neo puritanisme yang lebih keras, kaku, monolitik dibanding puritan masa lalu.
Hingga kemudian gerakan tersebut muncul ke politik yakni menginginkan negara Islam. Haedar menyebutnya dengan istilah reproduksi salafiyah ideologis atau menginginkan kembali ke era masa salaf namun bersifat perjuangan politik.
Kelompok tersebut berpandangan bahwa negara khilafah adalah sebagai format negara tunggal dan menolak atau menyalahkan format negara lainnya. Namun demikian kelompok dan gerakan militan tersebut telah ditolak berbagai negara.
"Gerakan ini ternyata di Saudi juga ditolak. Padahal Saudi negaranya Islam tapi bentuknya mamlakah, kerajaan. Kemudian di Mesir juga diusir karena berbeda dengan pandangan Mesir. Jadi jangankan di negara yang seperti Indonesia yang memilih Pancasila sebagai dasar negara yang sebenarnya sejalan dengan islam, di negara-negara itu juga dianggap sebagai gerakan yang menimbulkan masalah, bahkan ilegal," terangnya.
Dalam kesimpulannya, Prof Haedar mengatakan bahwa gerakan kelompok militan yang disebut dengan istilah reproduksi Salafiyah Ideologis dalam bukunya itu memiliki banyak masalah.
Selain itu menurutnya bila pola gerakan atau kelompok tersebut yang digunakan dalam Islam Indonesia atau di dunia maka justru akan terjadi penyempitan ruang Islam di berbagai negara. Selain itu kelompok tersebut juga memungkinkan banyak orang menjadi tidak nyaman dengan Islam, sehingga memilih agama lainnya sehingga muncul konversi agama.
Lihat Juga :