Dosen Unpad Gunakan VR untuk Terapi Rasa Takut dan Fobia
Rabu, 02 November 2022 - 14:51 WIB
loading...
A
A
A
Lebih lanjut Aulia mengatakan, rasa takut dan fobia dalam seseorang salah satunya disebabkan dari proses belajar manusia. Karena itu, proses intervensi psikologis yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mempelajari ulang (re-learning) sehingga seseorang lebih bisa menjadi “rasional” dalam memandang rasa takutnya tanpa mengganggu fungsi dan kualitas hidupnya.
Pengembangan VR untuk terapi rasa takut dan fobia ini telah dilakukan Aulia sejak 2017. Pengembangan riset ini dilakukan bersama peneliti lain di Fakultas Psikologi dan Fakultas MIPA Unpad. Dari berbagai teknologi yang dikembangkan, teknologi VR menggunakan perangkat Oculus Quest 2 ini dinilai lebih ringkas.
Baca juga: 1.670 Mahasiswa Universitas Brawijaya Terima KIP Kuliah
Studi awal yang dilakukan berupa intervensi untuk mengatasi rasa takut akan gelap. Aulia mengatakan, mereka yang telah mencoba mengalami penurunan intensitas rasa takut gelap. “Bukan jadi sama sekali tidak takut, tapi intensitasnya berkurang,” imbuhnya.
Studi lainnya adalah mengatasi rasa cemas untuk berbicara di depan publik. Dalam melakukan intervensi, tim menyiapkan level tertentu yang akan dihadapi pengguna. Perbedaan dari setiap level adalah jumlah audiens yang akan dihadapi pengguna.
Pengembangan VR untuk terapi rasa takut dan fobia ini telah dilakukan Aulia sejak 2017. Pengembangan riset ini dilakukan bersama peneliti lain di Fakultas Psikologi dan Fakultas MIPA Unpad. Dari berbagai teknologi yang dikembangkan, teknologi VR menggunakan perangkat Oculus Quest 2 ini dinilai lebih ringkas.
Baca juga: 1.670 Mahasiswa Universitas Brawijaya Terima KIP Kuliah
Studi awal yang dilakukan berupa intervensi untuk mengatasi rasa takut akan gelap. Aulia mengatakan, mereka yang telah mencoba mengalami penurunan intensitas rasa takut gelap. “Bukan jadi sama sekali tidak takut, tapi intensitasnya berkurang,” imbuhnya.
Studi lainnya adalah mengatasi rasa cemas untuk berbicara di depan publik. Dalam melakukan intervensi, tim menyiapkan level tertentu yang akan dihadapi pengguna. Perbedaan dari setiap level adalah jumlah audiens yang akan dihadapi pengguna.
Lihat Juga :