Dosen UB Ungkap Tiga Kunci Konsep Bangunan Tahan Gempa
Sabtu, 03 Desember 2022 - 07:05 WIB
loading...
A
A
A
Dia melanjutkan, bangunan tahan gempa, bagi masyarakat umum, pada prinsipnya adalah sederhana dan ringan. Bangunan sederhana adalah yang beraturan, dimisalkan Ari dengan denah yang berbentuk simetris seperti kotak, dan tersedianya kolom di tiap pertemuan dinding, kolom menerus sampai bawah. “Kolom juga harus lebih kuat dibanding baloknya. Hal ini agar kerusakan terjadi di balok, bukan di kolom. Inilah yang dimaksud dengan “rusak dengan cara yang diinginkan”,” jelasnya.
Baca juga: Terbaru, Penerimaan Calon Mahasiswa D3 Bergabung ke SNPMB 2023
Bangunan juga harus ringan. “Hal ini karena efek gempa pada struktur sebanding dengan berat bangunan. Berat bangunan menjadi ringan dapat dilakukan salah satunya dengan penggunaan bata ringan untuk dinding, penggunaan rangka baja ringan seperti galvalum untuk bangunan. Isi rumah juga harus dipertimbangkan, karena semakin ringan isi rumahnya, efek gempa bisa diminimalisir karena bangunannya ringan,” lugasnya.
Kondisi tanah, jelas dosen Teknik Sipil ini, juga berpengaruh terhadap kekuatan gempa. Makin lunak tipe tanah, makin besar efek gempa ke bangunan. “Kunci utama untuk pondasi bangunan adalah harus mencapai tanah keras atau tanah cadas. Sangat menjamin untuk bangunan tahan gempa. Jika tidak, maka efeknya gempanya juga akan lebih berat,” terangnya.
Terkait material, bahan organik seperti kayu atau bambu mempunyai sifat elastisitas yang lebih dapat bertahan dalam kondisi deformasi yang besar. “Sehingga bangunan dengan material kedua bahan ini bisa lebih bertahan walaupun bangunan sudah doyong besar, dan tidak gampang runtuh. Namun, kedua bahan ini lebih rentan terhadap rayap, jamur, kelembaban dan sejenisnya. Itulah kenapa rumah menggunakan beton cenderung lebih dipilih karena lebih awet,” pungkasnya.
Baca juga: Terbaru, Penerimaan Calon Mahasiswa D3 Bergabung ke SNPMB 2023
Bangunan juga harus ringan. “Hal ini karena efek gempa pada struktur sebanding dengan berat bangunan. Berat bangunan menjadi ringan dapat dilakukan salah satunya dengan penggunaan bata ringan untuk dinding, penggunaan rangka baja ringan seperti galvalum untuk bangunan. Isi rumah juga harus dipertimbangkan, karena semakin ringan isi rumahnya, efek gempa bisa diminimalisir karena bangunannya ringan,” lugasnya.
Kondisi tanah, jelas dosen Teknik Sipil ini, juga berpengaruh terhadap kekuatan gempa. Makin lunak tipe tanah, makin besar efek gempa ke bangunan. “Kunci utama untuk pondasi bangunan adalah harus mencapai tanah keras atau tanah cadas. Sangat menjamin untuk bangunan tahan gempa. Jika tidak, maka efeknya gempanya juga akan lebih berat,” terangnya.
Terkait material, bahan organik seperti kayu atau bambu mempunyai sifat elastisitas yang lebih dapat bertahan dalam kondisi deformasi yang besar. “Sehingga bangunan dengan material kedua bahan ini bisa lebih bertahan walaupun bangunan sudah doyong besar, dan tidak gampang runtuh. Namun, kedua bahan ini lebih rentan terhadap rayap, jamur, kelembaban dan sejenisnya. Itulah kenapa rumah menggunakan beton cenderung lebih dipilih karena lebih awet,” pungkasnya.
(nnz)
Lihat Juga :