Miris, FSGI Sebut Ada 117 Korban Kekerasan Seksual di Sekolah Sepanjang 2022
Selasa, 03 Januari 2023 - 12:31 WIB
loading...
Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) mengikuti proses belajar mengajar di sekolahnya. Foto/Dok/SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Federasi Serikat Guru Indonesia ( FSGI ) mencatat, sepanjang tahun 2022 terdapat 117 korban kekerasan seksual didunia Pendidikan. Korban tersebut, bahkan merata dari mulai bangku Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
Ketua Dewan Pakar FSGI Retno Listyarti mengatakan, meski terdapat 117 korban. Namun, menurut pengumpulan data yang Ia peroleh hanya ada 17 kasus yang sampai menuju proses hukum. Hal ini, menurun sedikit dibandingkan tahun 2021 yang berjumlah 18 kasus.
Baca juga: Diikuti 2.682 Peserta, 2 Siswa MTsN 1 Pati Raih Medali KMSI Nasional 2022
Menurut Retno, kasus kekerasan seksual terjadi dijenjang SD sebanyak 2 kasus, jenjang SMP sebanyak 3 kasus, jenjang SMA 2 kasus, Pondok Pesantren 6 kasus, Madrasah tempat mengaji/tempat ibadah 3 kasus; dan 1 tempat kursus musik bagi anak usia TK dan SD. Rentang usia korban antara 5-17 tahun.
“Korban berjumlah 117 anak dengan rincian 16 anak laki-laki dan 101 anak perempuan. Sedangkan pelaku total berjumlah 19 orang yang terdiri dari 14 guru, 1 pemilik pesantren, 1 anak pemilik pesantren, 1 staf perpustakaan, 1 calon pendeta dan 1 kakak kelas korban," ujar Retno dalam keterangannya, Selasa (3/1/2023).
Ketua Dewan Pakar FSGI Retno Listyarti mengatakan, meski terdapat 117 korban. Namun, menurut pengumpulan data yang Ia peroleh hanya ada 17 kasus yang sampai menuju proses hukum. Hal ini, menurun sedikit dibandingkan tahun 2021 yang berjumlah 18 kasus.
Baca juga: Diikuti 2.682 Peserta, 2 Siswa MTsN 1 Pati Raih Medali KMSI Nasional 2022
Menurut Retno, kasus kekerasan seksual terjadi dijenjang SD sebanyak 2 kasus, jenjang SMP sebanyak 3 kasus, jenjang SMA 2 kasus, Pondok Pesantren 6 kasus, Madrasah tempat mengaji/tempat ibadah 3 kasus; dan 1 tempat kursus musik bagi anak usia TK dan SD. Rentang usia korban antara 5-17 tahun.
“Korban berjumlah 117 anak dengan rincian 16 anak laki-laki dan 101 anak perempuan. Sedangkan pelaku total berjumlah 19 orang yang terdiri dari 14 guru, 1 pemilik pesantren, 1 anak pemilik pesantren, 1 staf perpustakaan, 1 calon pendeta dan 1 kakak kelas korban," ujar Retno dalam keterangannya, Selasa (3/1/2023).
Lihat Juga :