Bangga, Karya Mahasiswa ITS Tampil pada Pameran Internasional di Korea
Rabu, 04 Januari 2023 - 15:47 WIB
loading...
A
A
A
Oleh karena itu, Dima menambahkan banyak elemen sebagai pesan tersirat pada karyanya. Ia memaparkan, objek manusia pada karyanya menggambarkan tentang manusia yang tengah berproses untuk menerima dirinya sendiri. Lalu, berbagai ornamen yang tertuang pada karyanya seperti ikan, gelembung, dan gelombang air untuk menggambarkan bahwa manusia dan makhluk hidup lainnya selalu hidup beriringan.
Baca juga: Kampus Merdeka, Ini 2 Program yang Masih Dibuka untuk Mahasiswa dan Cara Daftarnya
Berbeda dengan Dima, Aqila membuat karyanya secara manual. Karyanya yang bertajuk Not Born to Perform tersebut memadukan teknik realis dengan guratan pensil dan ide cemerlangnya tentang eksploitasi hewan laut sebagai urgensi bersama. “Karya saya menggambarkan ironi atas eksploitasi paus orca yang sering dipekerjakan di taman hiburan,” ungkapnya.
Ia menuturkan, paus orca ditangkap, dibunuh, dan dipisahkan dari habitatnya untuk dijadikan “boneka pertunjukan” oleh manusia. Ironisnya lagi, penangkapan paus orca ini biasanya menargetkan paus yang masih muda. “Paus orca dilahirkan bukan untuk menjadi penghibur manusia, tetapi untuk menikmati kehidupan di alam bebas,” tandasnya mengingatkan.
Untuk menggambarkan kekhawatirannya terhadap tindak eksploitasi tersebut, Aqila menggambarkan sebuah paus yang terlilit benang dari tangan manusia. Benang tersebut digambarkan seolah mengikat dan menjebak sang paus akibat keserakahan dari manusia. “Meskipun teknik yang saya gunakan sederhana, saya percaya pesan inilah yang berhasil mengantarkan saya hingga bisa meraih penghargaan,” pungkasnya percaya diri.
Baca juga: Kampus Merdeka, Ini 2 Program yang Masih Dibuka untuk Mahasiswa dan Cara Daftarnya
Berbeda dengan Dima, Aqila membuat karyanya secara manual. Karyanya yang bertajuk Not Born to Perform tersebut memadukan teknik realis dengan guratan pensil dan ide cemerlangnya tentang eksploitasi hewan laut sebagai urgensi bersama. “Karya saya menggambarkan ironi atas eksploitasi paus orca yang sering dipekerjakan di taman hiburan,” ungkapnya.
Ia menuturkan, paus orca ditangkap, dibunuh, dan dipisahkan dari habitatnya untuk dijadikan “boneka pertunjukan” oleh manusia. Ironisnya lagi, penangkapan paus orca ini biasanya menargetkan paus yang masih muda. “Paus orca dilahirkan bukan untuk menjadi penghibur manusia, tetapi untuk menikmati kehidupan di alam bebas,” tandasnya mengingatkan.
Untuk menggambarkan kekhawatirannya terhadap tindak eksploitasi tersebut, Aqila menggambarkan sebuah paus yang terlilit benang dari tangan manusia. Benang tersebut digambarkan seolah mengikat dan menjebak sang paus akibat keserakahan dari manusia. “Meskipun teknik yang saya gunakan sederhana, saya percaya pesan inilah yang berhasil mengantarkan saya hingga bisa meraih penghargaan,” pungkasnya percaya diri.
(nnz)
Lihat Juga :