Kemenparekraf dan Kemendikbudristek Dapat Penghargaan dari UI
Kamis, 12 Januari 2023 - 09:51 WIB
loading...
A
A
A
“Pariwisata merupakan salah satu sektor yang mendukung percepatan ekonomi pasca pandemi Covid-19. Hal ini karena pariwisata mendorong masyarakat untuk melakukan mobilisasi ke daerah-daerah lain. Desa Wisata yang gerakkan oleh UI dan Kemenparekraf diharapkan dapat menjadi roda penggerak ekonomi dan pemulihan aktivitas pariwisata pasca pandemi. Program Kedaireka dari Kemendikbudristek mewujudkan kemudahan sinergi antara perguruan tinggi dan mitra dalam satu platform,” ujarnya.
Sandiaga menuturkan, peningkatan mobilitas masyarakat terjadi karena tepatnya penanganan pandemi di Indonesia. Pada 2022, pariwisata Indonesia telah mencapai pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat. Meski demikian, potensi pariwisata di Indonesia berbanding lurus dengan nature dan culture. Indonesia memiliki pariwisata yang indah sekaligus potensi kebencanaan yang tinggi. Untuk itu, diperlukan langkah mitigasi dan solusi konkret yang bisa dikolaborasikan bersama.
Baca juga: IPB Berhasil Fasilitasi 115 Startup, Tertinggi di Antara Kampus Lain
“Kita telah memberikan pelatihan CHSE (cleanliness, health, safety, and environment) dan saat gempa kemarin, saya mendapat kabar dari Pak Kades, bahwa hanya terjadi kerusakan kecil di gerbang wisata dan tidak ada korban jiwa. Kesiapsiagaan ini tentunya harus kita kolaborasikan dengan Universitas Indonesia (UI) yang memiliki segudang mahasiswa dan peneliti terbaik untuk meningkatkan ketahanan destinasi wisata di Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kemendikbudristek, Nizam mengatakan, transformasi pendidikan tinggi yang dilakukan Kemendikbudristek sering disalahmaknai sebagai vokasionalisasi Perguruan Tinggi yang berorientasi jangka pendek terhadap fungsi pendidikan. Padahal, menurutnya, transformasi ini justru untuk mengawinkan antara kampus pendidikan dengan kampus kehidupan. “Kampus harus memahami apa yang dibutuhkan oleh masyarakat melalui hilirisasi dan huluisasi,” katanya.
“Hilirisasi berarti merancang sejak awal riset dan inovasi yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat, sementara huluisasi adalah kerja secara langsung untuk membantu masyarakat, misalnya di bidang kesehatan, pemberdayaan, dan pengelolaan lingkungan. Dosen dan mahasiswa harus mampu menjahit program-program tersebut agar terjadi akselerasi terciptanya konorsium di bidang electric vehicle, kelautan, pertanian, pendidikan, sosial, ekonomi, dan kesehatan. Oleh karena itu, sinergi kita bersama diperlukan untuk membuat masyarakat dan bangsa ini semakin maju,” ujar Prof. Nizam.
Sandiaga menuturkan, peningkatan mobilitas masyarakat terjadi karena tepatnya penanganan pandemi di Indonesia. Pada 2022, pariwisata Indonesia telah mencapai pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat. Meski demikian, potensi pariwisata di Indonesia berbanding lurus dengan nature dan culture. Indonesia memiliki pariwisata yang indah sekaligus potensi kebencanaan yang tinggi. Untuk itu, diperlukan langkah mitigasi dan solusi konkret yang bisa dikolaborasikan bersama.
Baca juga: IPB Berhasil Fasilitasi 115 Startup, Tertinggi di Antara Kampus Lain
“Kita telah memberikan pelatihan CHSE (cleanliness, health, safety, and environment) dan saat gempa kemarin, saya mendapat kabar dari Pak Kades, bahwa hanya terjadi kerusakan kecil di gerbang wisata dan tidak ada korban jiwa. Kesiapsiagaan ini tentunya harus kita kolaborasikan dengan Universitas Indonesia (UI) yang memiliki segudang mahasiswa dan peneliti terbaik untuk meningkatkan ketahanan destinasi wisata di Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kemendikbudristek, Nizam mengatakan, transformasi pendidikan tinggi yang dilakukan Kemendikbudristek sering disalahmaknai sebagai vokasionalisasi Perguruan Tinggi yang berorientasi jangka pendek terhadap fungsi pendidikan. Padahal, menurutnya, transformasi ini justru untuk mengawinkan antara kampus pendidikan dengan kampus kehidupan. “Kampus harus memahami apa yang dibutuhkan oleh masyarakat melalui hilirisasi dan huluisasi,” katanya.
“Hilirisasi berarti merancang sejak awal riset dan inovasi yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat, sementara huluisasi adalah kerja secara langsung untuk membantu masyarakat, misalnya di bidang kesehatan, pemberdayaan, dan pengelolaan lingkungan. Dosen dan mahasiswa harus mampu menjahit program-program tersebut agar terjadi akselerasi terciptanya konorsium di bidang electric vehicle, kelautan, pertanian, pendidikan, sosial, ekonomi, dan kesehatan. Oleh karena itu, sinergi kita bersama diperlukan untuk membuat masyarakat dan bangsa ini semakin maju,” ujar Prof. Nizam.
(nnz)
Lihat Juga :