Ornamen Header
Tanggapi Rencana Jokowi, PGRI Sebut Pembenahan Sistem Pendidikan Harus Komprehensif
Tanggapi Rencana Jokowi, PGRI Sebut Pembenahan Sistem Pendidikan Harus Komprehensif
Tanggapi Rencana Jokowi, PGRI Sebut Pembenahan Sistem Pendidikan Harus Komprehensif
Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyambut baik rencana pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional (sisdiknas). Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi mengatakan, itu sebenarnya wacana lama yang belum juga terealisasi.

"Ini kebetulan ada pandemi Covid-19 mendorong lebih cepat itu sangat bagus. Tapi kita jangan pembenahannya tambal sulam," ujarnya saat dihubungi SINDOnews, Senin (6/4/2020).

Pada Jumat lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengutarakan ingin mengevaluasi sisdiknas secara menyeluruh. Secara spesifik, mantan Wali Kota Solo itu menyoroti standar evaluasi untuk jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Pemerintah mewacanakan standarnya mengacu pada Programme For International Student Assessment (PISA).

Namun, Indonesia masih lemah dalam tiga aspek dasar, yakni membaca, matematika, dan sains. Unifah menyarankan agar pemerintah membuat grand design sisdiknas untuk menghadapi situasi yang penuh gejolak dan tidak menentu ini.

Maka, ada dua agenda besar yang akan dihadapi Indonesia. Pertama, Indonesia menjadi bagian masyarakat global. Hal tersebut terkait dengan peningkatan literasi, numerasi, sesuai PISA, sumber daya manusia (SDM) yang kritis, analitis, kooperatif, dan komunikatif.



"Di sisi lain, Indonesia itu negara kebinekaan. Bingkai besarnya harus dua, kita bagian dari pendidik masyarakat global. Di sisi lain, kita harus tetap membangun Indonesia yang sangat pluralis. Ini memerlukan perhatian besar dalam mendidik warga tentang kesadaran kultural ke-Indonesia-an yang kokoh," tutur Unifah.

Dasar untuk menjadi masyarakat global, katanya, harus menguasai konsep science, technology, engeenering, art, dan math (STEAM). Dengan itu, SDM Indonesia akan lincah dan fleksibel dalam menghadapi tantangan global, termasuk model pekerjaan yang tidak terstruktur seperti jaman dahulu. (Baca juga: Jokowi: Guru Sibuk Fokus Urusi Administrasi Lupa Tugas Mengajar).

"Kalau sekarang sporadis. Tidak berjenjang karena itu memerlukan keterbukaan cara berpikir dan kelincahan, maka mata pelajarannya yang terkait bagaimana siswa menemukan pengetahuan," pungkasnya.
(zik)
TULIS KOMENTAR ANDA!