Akses Internet Masih Jadi Kendala Dunia Pendidikan Indonesia
Jum'at, 12 Mei 2023 - 18:11 WIB
"45 persen kepala sekolah mengarah, mereka mengalami kendala pada koneksi internet. Begitu juga guru, 46 persen mengatakan ya, mereka bermasalah dalam koneksi internet. Khususnya Indonesia Timur dan daerah-daerah kepulauan," jelas Yoshia.
Bahkan, lanjutnya, masalah koneksi internet itu juga menjadi masalah tersendiri proses survei itu. "Karena setiap membalas WhatsApp kami untuk mengisi kuisioner, mereka bilang 'ya pak, Bu, tunggu kami ke kota, baru kami isi. Karena di pulau kami sulit untuk internet.' Ini juga jadi kendala dalam aksesibilitas teknologi dan digital," ungkapnya.
Selain lemahnya jaringan internet, sebagian responden juga mengakui belum bisa memanfaatkan salah satu platform dan aplikasi yang dirancang kementerian yang dipimpin Nadiem Anwar Makarim ini.
Baca juga: Setarakan Hasil Pendidikan, 36.604 Santri akan Ikuti Uji Kesetaraan 2023
Misalnya Sistem Aplikasi Pengadaan Sekolah (SIPLah) yang digunakan untuk proses pengadaan. Belum adanya sosialisasi secara langsung, menjadi salah satu penyebab mengapa mereka kebingungan menggunakan aplikasi itu.
"Aplikasi sistem aplikasi pengadaan sekolah (SIPLah), dari 1521 sekolah yang diwakilkan oleh kepala sekolah, 71 persen yang menggunakan aplikasi SIPLah dalam proses pengadaan," imbuhnya.
“(Yang) Belum menggunakan, ada beberapa kendala, yang pertama belum dapat sosialisasi, kemudian akses internet dan listrik yang terbatas, sekolah tidak memiliki modal," lanjut Yoshia.
Menyikapi hal itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendikbudristek Suharti yang juga hadir dalam webinar itu mengamini jika kondisi itu memang menjadi kendala di beberapa wilayah di nusantara. Solusinya perlu diperkuat kolaborasi lintas kementerian.
Bahkan, lanjutnya, masalah koneksi internet itu juga menjadi masalah tersendiri proses survei itu. "Karena setiap membalas WhatsApp kami untuk mengisi kuisioner, mereka bilang 'ya pak, Bu, tunggu kami ke kota, baru kami isi. Karena di pulau kami sulit untuk internet.' Ini juga jadi kendala dalam aksesibilitas teknologi dan digital," ungkapnya.
Selain lemahnya jaringan internet, sebagian responden juga mengakui belum bisa memanfaatkan salah satu platform dan aplikasi yang dirancang kementerian yang dipimpin Nadiem Anwar Makarim ini.
Baca juga: Setarakan Hasil Pendidikan, 36.604 Santri akan Ikuti Uji Kesetaraan 2023
Misalnya Sistem Aplikasi Pengadaan Sekolah (SIPLah) yang digunakan untuk proses pengadaan. Belum adanya sosialisasi secara langsung, menjadi salah satu penyebab mengapa mereka kebingungan menggunakan aplikasi itu.
"Aplikasi sistem aplikasi pengadaan sekolah (SIPLah), dari 1521 sekolah yang diwakilkan oleh kepala sekolah, 71 persen yang menggunakan aplikasi SIPLah dalam proses pengadaan," imbuhnya.
“(Yang) Belum menggunakan, ada beberapa kendala, yang pertama belum dapat sosialisasi, kemudian akses internet dan listrik yang terbatas, sekolah tidak memiliki modal," lanjut Yoshia.
Menyikapi hal itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendikbudristek Suharti yang juga hadir dalam webinar itu mengamini jika kondisi itu memang menjadi kendala di beberapa wilayah di nusantara. Solusinya perlu diperkuat kolaborasi lintas kementerian.
Lihat Juga :