UKRIDA Gelar Forum Pelaku Bisnis Membahas Prospek dan Tantangan Ekonomi 2025
Kamis, 23 Januari 2025 - 09:29 WIB
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad, dalam paparannya sebagai pembicara utama, menyoroti ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap kondisi global.
"Struktur PDB kita sekitar 20% ditentukan oleh ekonomi global. Saat ini, kita harus menghadapi tantangan dari kebijakan fiskal yang ketat dan hambatan perdagangan yang meningkat, terutama akibat kebijakan negara-negara besar seperti Amerika Serikat," jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan sektor-sektor utama seperti industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan yang pertumbuhannya masih di bawah rata-rata ekonomi nasional.
"Jika sektor-sektor ini tidak mampu tumbuh di atas 5%, kita akan menghadapi tantangan besar dalam mengurangi tingkat pengangguran," tegasnya.
Dalam forum diskusi yang dipandu Riawan Tamin dari komunitas pengusaha Tangan Di Atas, CEO BCA Armand Hartono menekankan pentingnya kesiapan menghadapi ketidakpastian. "Sebenarnya, tidak ada yang dapat mengetahui dunia ini tepatnya akan menjadi seperti apa di tahun 2025. Namun, bagian terpenting adalah cara kita siap menghadapi gejolak dan mencari peluang di tengah ketidakpastian," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa inovasi teknologi dan pembelajaran berkelanjutan menjadi kunci untuk bertahan di pasar yang kompetitif.
Kilala Tilaar, CEO Martha Tilaar Group, juga membagikan pengalamannya tentang transformasi industri kecantikan di era digital. "Dengan banyaknya persaingan yang benar-benar dahsyat saat ini, semua orang jadi ingin lebih bagus, lebih murah, lebih cepat," katanya.
Dalam kolaborasinya dengan Prof. Dr. Ir. Bernard Tirtomoeljono Widjaja, yang juga merupakan guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UKRIDA, Kilala mengungkapkan misinya untuk memberdayakan UKM.
"Saya memiliki misi untuk UKM yang dibantu oleh beliau, yaitu saya ingin setiap UKM yang masuk ke dalam program kami dapat mencapai satu juta dollar setahun. Dengan skala produksi yang lebih besar, kita dapat meningkatkan efisiensi dan memberikan kepuasan yang lebih baik bagi semua pihak," jelasnya.
"Struktur PDB kita sekitar 20% ditentukan oleh ekonomi global. Saat ini, kita harus menghadapi tantangan dari kebijakan fiskal yang ketat dan hambatan perdagangan yang meningkat, terutama akibat kebijakan negara-negara besar seperti Amerika Serikat," jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan sektor-sektor utama seperti industri pengolahan, pertanian, dan perdagangan yang pertumbuhannya masih di bawah rata-rata ekonomi nasional.
"Jika sektor-sektor ini tidak mampu tumbuh di atas 5%, kita akan menghadapi tantangan besar dalam mengurangi tingkat pengangguran," tegasnya.
Dalam forum diskusi yang dipandu Riawan Tamin dari komunitas pengusaha Tangan Di Atas, CEO BCA Armand Hartono menekankan pentingnya kesiapan menghadapi ketidakpastian. "Sebenarnya, tidak ada yang dapat mengetahui dunia ini tepatnya akan menjadi seperti apa di tahun 2025. Namun, bagian terpenting adalah cara kita siap menghadapi gejolak dan mencari peluang di tengah ketidakpastian," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa inovasi teknologi dan pembelajaran berkelanjutan menjadi kunci untuk bertahan di pasar yang kompetitif.
Kilala Tilaar, CEO Martha Tilaar Group, juga membagikan pengalamannya tentang transformasi industri kecantikan di era digital. "Dengan banyaknya persaingan yang benar-benar dahsyat saat ini, semua orang jadi ingin lebih bagus, lebih murah, lebih cepat," katanya.
Dalam kolaborasinya dengan Prof. Dr. Ir. Bernard Tirtomoeljono Widjaja, yang juga merupakan guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UKRIDA, Kilala mengungkapkan misinya untuk memberdayakan UKM.
"Saya memiliki misi untuk UKM yang dibantu oleh beliau, yaitu saya ingin setiap UKM yang masuk ke dalam program kami dapat mencapai satu juta dollar setahun. Dengan skala produksi yang lebih besar, kita dapat meningkatkan efisiensi dan memberikan kepuasan yang lebih baik bagi semua pihak," jelasnya.
Lihat Juga :