Mahasiswa Baru USG Didorong Jadi Problem Solver di Era AI
Jum'at, 19 September 2025 - 15:42 WIB
Khairul Munadi mengatakan, kampus bukan hanya tempat belajar teori atau tempat duduk manis di kelas untuk mendengarkan kuliah, tetapi kampus harus menjadi simbol pengetahuan, pusat penciptaan pengetahuan inovasi dan dampak sosial.
"Kemendiktisaintek memunculkan konsep Kampus Berdampak. Mahasiswa harus menjadi poblem solver, bukan hanya sebagai penghafal teori. Dan kalian tidak salah pilih kampus dengan semangat para pengelolanya, USG: kokoh, melesat, mendunia," ujarnya.
Menurutnya, di era Artificial Intelligence (AI), ada keterampilan yang harus dibangun sejak sekarang. Pertama literasi data. Perlu kemampuan membaca, menganalisis, dan mengunakan informasi (big data) di dunia digital. Kedua, literasi teknologi. Mahasiswa perlu untuk mengetahui prosesnya sehingga bisa melakukan verifikasi mana yang benar dan salah.
"Jangan menelan informasi karena bisa jadi informasi yang diterima tidak valid sehingga perlu mengetahui literasi teknologi," tuturnya.
Ketiga adalah literasi antarmanusia. Menurutnya, jangan sampai kemajuan teknologi yang ada membuat kita tidak bisa berkomunikasi dengan bai kantarmanusia. ”Di Jepang ada manusia menikahi robot. Kita harus punya kemampuan berinteraksi dengan masyarakat, punya empati, etika, moral dan spiritualitas tinggi. Ini perlu kita tekankan. Jangan sampai kebalik, tujuan memanusiakan manusia, jangan sampai merobotkan manusia,” katanya.
"Kemendiktisaintek memunculkan konsep Kampus Berdampak. Mahasiswa harus menjadi poblem solver, bukan hanya sebagai penghafal teori. Dan kalian tidak salah pilih kampus dengan semangat para pengelolanya, USG: kokoh, melesat, mendunia," ujarnya.
Menurutnya, di era Artificial Intelligence (AI), ada keterampilan yang harus dibangun sejak sekarang. Pertama literasi data. Perlu kemampuan membaca, menganalisis, dan mengunakan informasi (big data) di dunia digital. Kedua, literasi teknologi. Mahasiswa perlu untuk mengetahui prosesnya sehingga bisa melakukan verifikasi mana yang benar dan salah.
"Jangan menelan informasi karena bisa jadi informasi yang diterima tidak valid sehingga perlu mengetahui literasi teknologi," tuturnya.
Ketiga adalah literasi antarmanusia. Menurutnya, jangan sampai kemajuan teknologi yang ada membuat kita tidak bisa berkomunikasi dengan bai kantarmanusia. ”Di Jepang ada manusia menikahi robot. Kita harus punya kemampuan berinteraksi dengan masyarakat, punya empati, etika, moral dan spiritualitas tinggi. Ini perlu kita tekankan. Jangan sampai kebalik, tujuan memanusiakan manusia, jangan sampai merobotkan manusia,” katanya.
Lihat Juga :