Jejak Pendidikan Gus Dur, Cucu Pendiri NU yang Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional
Senin, 10 November 2025 - 16:14 WIB
Latar belakang keluarganya yang sarat nilai keislaman dan keilmuan menjadikan Gus Dur tumbuh sebagai sosok cendekiawan yang berwawasan luas dan berpikiran terbuka.
Baca juga: Golkar Apresiasi Keputusan Prabowo Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dan Gus Dur
Sejak kecil, Gus Dur telah menunjukkan kecerdasan luar biasa. Pada usia lima tahun, ia sudah mampu membaca Al-Qur’an, berkat bimbingan langsung dari sang kakek, K.H. Hasyim Asy’ari.
Setelah lulus sekolah dasar, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Gowongan, Yogyakarta, sambil tetap mengaji di Pondok Pesantren Krapyak.
Pendidikan pesantrennya berlanjut di Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, selama dua tahun, kemudian pindah ke Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.
Baca juga: 10 Pahlawan Nasional Resmi Diumumkan, Ini Daftar Nama-namanya
Di masa muda, Gus Dur dikenal memiliki kegemaran membaca yang tinggi. Ia menamatkan berbagai karya sastra dan pemikiran dunia, mulai dari Ernest Hemingway, John Steinbeck, Will Durant, hingga Lenin dengan bukunya What Is To Be Done?
Baca juga: Golkar Apresiasi Keputusan Prabowo Anugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dan Gus Dur
Sejak kecil, Gus Dur telah menunjukkan kecerdasan luar biasa. Pada usia lima tahun, ia sudah mampu membaca Al-Qur’an, berkat bimbingan langsung dari sang kakek, K.H. Hasyim Asy’ari.
Setelah lulus sekolah dasar, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) di Gowongan, Yogyakarta, sambil tetap mengaji di Pondok Pesantren Krapyak.
Pendidikan pesantrennya berlanjut di Pondok Pesantren Tegalrejo, Magelang, selama dua tahun, kemudian pindah ke Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang.
Baca juga: 10 Pahlawan Nasional Resmi Diumumkan, Ini Daftar Nama-namanya
Di masa muda, Gus Dur dikenal memiliki kegemaran membaca yang tinggi. Ia menamatkan berbagai karya sastra dan pemikiran dunia, mulai dari Ernest Hemingway, John Steinbeck, Will Durant, hingga Lenin dengan bukunya What Is To Be Done?
Lihat Juga :