Cegah Bullying Sejak Dini, Kemendikdasmen Bagikan 7 Jurus untuk Guru BK
Sabtu, 15 November 2025 - 13:40 WIB
Guru BK bersama wali kelas aktif mengenali minat, bakat, dan kondisi emosional tiap murid. Ketika murid merasa dipahami sebagai individu, risiko mereka menjadi pelaku atau korban perundungan dapat menurun. Pemahaman ini juga membantu murid membangun kepercayaan diri melalui kelebihan yang mereka miliki.
Murid perlu belajar mengidentifikasi dan mengelola emosi seperti marah, kecewa, atau sedih. Guru BK bersama guru mata pelajaran dan wali kelas dapat melatih kemampuan social emotional learning (SEL) sehingga murid punya ruang aman untuk bercerita. Pengelolaan emosi yang baik berkontribusi besar pada penurunan konflik interpersonal dan perundungan.
Baca juga: Reza Indragiri Ungkap 90% Pelaku Bullying Pernah Jadi Korban Perundungan
Resiliensi membuat murid mampu bangkit dari kegagalan maupun pengalaman negatif, termasuk perundungan. Guru BK mendorong pola pikir bertumbuh (growth mindset), bukan hukuman. Murid yang resilien lebih berani melapor, dan murid yang berpotensi menjadi pelaku dapat diarahkan menuju perilaku yang lebih positif.
Sekolah harus menerapkan kebiasaan positif secara konsisten, seperti empati, kejujuran, dan saling menghargai. Program harian atau mingguan seperti “Minggu Empati” atau “Sesi Berbagi” membantu memperkuat budaya sekolah yang jelas. Ketika kultur positif terbentuk, perundungan tidak lagi dianggap normal.
2. Kenali Emosi
Murid perlu belajar mengidentifikasi dan mengelola emosi seperti marah, kecewa, atau sedih. Guru BK bersama guru mata pelajaran dan wali kelas dapat melatih kemampuan social emotional learning (SEL) sehingga murid punya ruang aman untuk bercerita. Pengelolaan emosi yang baik berkontribusi besar pada penurunan konflik interpersonal dan perundungan.
Baca juga: Reza Indragiri Ungkap 90% Pelaku Bullying Pernah Jadi Korban Perundungan
3. Tumbuhkan Resiliensi
Resiliensi membuat murid mampu bangkit dari kegagalan maupun pengalaman negatif, termasuk perundungan. Guru BK mendorong pola pikir bertumbuh (growth mindset), bukan hukuman. Murid yang resilien lebih berani melapor, dan murid yang berpotensi menjadi pelaku dapat diarahkan menuju perilaku yang lebih positif.
4. Jaga Konsistensi
Sekolah harus menerapkan kebiasaan positif secara konsisten, seperti empati, kejujuran, dan saling menghargai. Program harian atau mingguan seperti “Minggu Empati” atau “Sesi Berbagi” membantu memperkuat budaya sekolah yang jelas. Ketika kultur positif terbentuk, perundungan tidak lagi dianggap normal.
Lihat Juga :