Tak Sekadar Kebaya, Ini Makna Hari Kartini dari 2 Guru Besar Unika Atma Jaya
Selasa, 21 April 2026 - 20:00 WIB
Di sisi lain, Prof. Yasintha memandang Kartini sebagai sosok yang tidak pernah berhenti belajar dan memiliki rasa ingin tahu tinggi di tengah keterbatasan. Semangat dan kegigihan tersebut dinilai terus menginspirasi perempuan Indonesia hingga saat ini, termasuk dirinya yang berhasil menjalankan berbagai peran hingga menjadi Guru Besar.
Gelar Guru Besar menjadi bukti konsistensi Prof. Yasintha dalam terus belajar dan mengejar mimpi. Ia menegaskan bahwa pilihannya untuk terjun ke dunia pendidikan sejak awal harus dijalankan dengan serius dan penuh tanggung jawab. Selain itu, dukungan keluarga menjadi faktor penting yang mendorongnya untuk terus berkembang.
Sejalan dengan itu, Prof. Yasintha menyoroti pentingnya keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi melalui manajemen waktu yang disiplin. Menurutnya, perempuan perlu mampu menjalankan perannya secara bijak, baik dalam pekerjaan maupun keluarga. “Kalau waktunya bekerja ya bekerja, tapi kalau sudah di rumah sudah tidak boleh ada pekerjaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa mimpi harus diiringi dengan rencana dan pengendalian diri agar dapat terwujud. Perempuan masa kini, menurutnya, memiliki peluang yang lebih terbuka dibandingkan masa Kartini, sehingga penting untuk memanfaatkan waktu secara maksimal. “Mimpi itu bukan sekadar mimpi, kita harus punya target, rencana, fokus, dan selalu ingat untuk berdoa kepada Tuhan,” tegasnya.
Gelar Guru Besar menjadi bukti konsistensi Prof. Yasintha dalam terus belajar dan mengejar mimpi. Ia menegaskan bahwa pilihannya untuk terjun ke dunia pendidikan sejak awal harus dijalankan dengan serius dan penuh tanggung jawab. Selain itu, dukungan keluarga menjadi faktor penting yang mendorongnya untuk terus berkembang.
Sejalan dengan itu, Prof. Yasintha menyoroti pentingnya keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi melalui manajemen waktu yang disiplin. Menurutnya, perempuan perlu mampu menjalankan perannya secara bijak, baik dalam pekerjaan maupun keluarga. “Kalau waktunya bekerja ya bekerja, tapi kalau sudah di rumah sudah tidak boleh ada pekerjaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa mimpi harus diiringi dengan rencana dan pengendalian diri agar dapat terwujud. Perempuan masa kini, menurutnya, memiliki peluang yang lebih terbuka dibandingkan masa Kartini, sehingga penting untuk memanfaatkan waktu secara maksimal. “Mimpi itu bukan sekadar mimpi, kita harus punya target, rencana, fokus, dan selalu ingat untuk berdoa kepada Tuhan,” tegasnya.
(nnz)
Lihat Juga :