Peneliti UNEJ Ungkap Keunikan Puyuh Gonggong, Fauna Endemik Jember yang Rentan Punah

Senin, 15 Juni 2026 - 20:30 WIB
Sudah tiga tahun ini dirinya rela naik turun di wilayah Pegunungan Ijen dan Taman Nasional Meru Betiri melakukan pengamatan puyuh gonggong biasa. Menurut dosen muda ini, banyak keunikan puyuh gonggong biasa yang berpotensi menjadikannya sebagai fauna khas bumi Pandalungan.

“Puyuh gonggong biasa hanya hidup di dataran tinggi Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri saja, di tempat lain tidak ada. Suaranya yang melengking dan seperti menggonggong mirip anjing membuat para pakar burung menjulukinya sebagai puyuh gonggong,” ungkap Arif, dalam keterangan resmi dikutip, Senin (15/6/2026).

Sesuai penelitiannya, puyuh gonggong biasa hidup berkelompok mulai dari lima hingga lima belas ekor di wilayah yang memiliki ketinggian 500 hingga 2.200 Mdpl, dan umumnya diatas ketinggian 1.000 Mdpl. Mereka aktif mencari makan di pagi dan sore hari menjelang malam di lantai hutan yang tutupan kanopi pohonnya masih rapat. Untuk mengetahui bagaimana puyuh gonggong biasa hidup dan berinteraksi di alam liar, Arif memilih menggunakan kamera jebak. Selain puyuh gonggong biasa, ia juga menemukan hewan lainnya di wilayah pegunungan Ijen seperti anjing liar atau ajag, merak hingga macan tutul.

Baca juga: Peneliti Universitas Jember Buktikan Tanaman Liar Kalimantan Efektif Turunkan Gula Darah

Menurut Arif, keberadaan burung endemik ini menambah daya tarik wilayah Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri. Seperti diketahui selain dikenal karena keindahan bentang alamnya, wilayah ini juga kaya dengan flora yang unik, contohnya tanaman Paku Pohon yang termasuk tanaman zaman prasejarah. Tanaman yang juga sedang diteliti oleh dosen di FMIPA UNEJ. Keberadaan puyuh gonggong biasa melengkapi kekayaan alam bumi Pandalungan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!