Dampak Pandemi Covid-19, Indonesia Alami Stunting Pendidikan
Jum'at, 11 Desember 2020 - 21:23 WIB
Prof. Kacung juga menekankan bahwa esensi belajar itu berawal dari rumah terlebih dahulu, kemudian berlanjut belajar di sekolah. “Jadi sebenarnya belajar dari rumah (BDR) bukanlah hal baru karena selama ini anak-anak belajar dari rumah terlebih dahulu baru ke sekolah,” katanya. (Baca juga: Jamin Kelancaran Belajar, Kemendikbud Luncurkan Akun 'belajar.id' )
Sementara itu, Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur Isa Ansori mengatakan selama pandemi anak telah kehilangan masa belajarnya. Kegiatan belajar dari rumah (BDR) selama ini kurang efektif karena beberapa faktor. Di antaranya kurangnya orang tua memahami situasi anak-anak sehingga banyak kasus orang tua emosional saat mengajar anak di rumah.
Padahal di masa pandemi, orang tua memegang peranan penting proses belajar dari rumah. Dengan memahami kebutuhan anak maka ruang penerimaan anak ketika diajari orang tua akan lebih besar. “Misalkan anak suka sekali main ponsel, maka bagaimana orang tua memberikan nilai tambah tersebut kepada anak. Misalkan memilihkan tayangan-tayangan yang lebih berkualitas dan membentuk karakter anak,” contohnya.
Minimnya pemahaman kebutuhan belajar anak ternyata juga dialami oleh pendidik. Hal ini terlihat munculnya keluhan guru cenderung hanya sekedar memberikan tugas-tugas saja selama BDR. Sehingga banyak keluhan muncul anak enggan berpartisipasi aktif, anak mematikan video saat pembelajaran via zoom dan sebagainya. (Baca juga: 6 Bulan Belum Kerja, Lulusan IPB University akan Diberikan Pendampingan Khusus )
“Kalau anak tidak peduli, tidak perhatian atau tidak terlibat berarti ada persoalan menyajikan materi pembelajaran kepada anak. Itu yang harus jadi introspeksi bagi pendidik bagaimana agar materi disukai anak-anak,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur Isa Ansori mengatakan selama pandemi anak telah kehilangan masa belajarnya. Kegiatan belajar dari rumah (BDR) selama ini kurang efektif karena beberapa faktor. Di antaranya kurangnya orang tua memahami situasi anak-anak sehingga banyak kasus orang tua emosional saat mengajar anak di rumah.
Padahal di masa pandemi, orang tua memegang peranan penting proses belajar dari rumah. Dengan memahami kebutuhan anak maka ruang penerimaan anak ketika diajari orang tua akan lebih besar. “Misalkan anak suka sekali main ponsel, maka bagaimana orang tua memberikan nilai tambah tersebut kepada anak. Misalkan memilihkan tayangan-tayangan yang lebih berkualitas dan membentuk karakter anak,” contohnya.
Minimnya pemahaman kebutuhan belajar anak ternyata juga dialami oleh pendidik. Hal ini terlihat munculnya keluhan guru cenderung hanya sekedar memberikan tugas-tugas saja selama BDR. Sehingga banyak keluhan muncul anak enggan berpartisipasi aktif, anak mematikan video saat pembelajaran via zoom dan sebagainya. (Baca juga: 6 Bulan Belum Kerja, Lulusan IPB University akan Diberikan Pendampingan Khusus )
“Kalau anak tidak peduli, tidak perhatian atau tidak terlibat berarti ada persoalan menyajikan materi pembelajaran kepada anak. Itu yang harus jadi introspeksi bagi pendidik bagaimana agar materi disukai anak-anak,” ujarnya.
Lihat Juga :