Mengenal RA Kartini, Pahlawan Nasional Pejuang Emansipasi Wanita
Jum'at, 21 April 2023 - 08:32 WIB
loading...
A
A
A
Menikah bukan menjadi halangan bagi dirinya untuk terus memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Sang suami justru sangat mendukung pemikirannya tersebut. Hal itu terbukti dengan mengizinkan dirinya mendirikan sekolah wanita di timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang.
Setelah menikah, ia dan suami dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada 13 September 1904.
Namun, tak lama kemudian kebahagiaan itu pun sirna. Berselang empat hari setelah persalinan, wanita itu mengembuskan napas terakhirnya pada 19 September 1904.
Kendati demikian, kepergiannya tidak serta-merta meruntuhkan segala perjuangannya selama ini. Mr. J. H. Abendanon, salah satu temannya di Belanda yang menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda mengumpulkan surat-surat yang pernah ia kirimkan kepada teman-temannya di Eropa.
Surat-surat tersebut berisikan pemikiran dirinya mengenai kebebasan wanita dan persamaan dalam memperoleh hak.
Abendanon kemudian membukukan seluruh surat dari wanita itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku ini pun diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh seorang sastrawan bernama Armijn Pane menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.
Tidak hanya itu, berkat kegigihannya, seorang tokoh politik etis bernama Van Deventer mendirikan yayasan dan sekolah wanita. Sekolah ini dibangun di Semarang pada 1912, kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya.
Setelah menikah, ia dan suami dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada 13 September 1904.
Namun, tak lama kemudian kebahagiaan itu pun sirna. Berselang empat hari setelah persalinan, wanita itu mengembuskan napas terakhirnya pada 19 September 1904.
Kendati demikian, kepergiannya tidak serta-merta meruntuhkan segala perjuangannya selama ini. Mr. J. H. Abendanon, salah satu temannya di Belanda yang menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda mengumpulkan surat-surat yang pernah ia kirimkan kepada teman-temannya di Eropa.
Surat-surat tersebut berisikan pemikiran dirinya mengenai kebebasan wanita dan persamaan dalam memperoleh hak.
Abendanon kemudian membukukan seluruh surat dari wanita itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku ini pun diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh seorang sastrawan bernama Armijn Pane menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.
Tidak hanya itu, berkat kegigihannya, seorang tokoh politik etis bernama Van Deventer mendirikan yayasan dan sekolah wanita. Sekolah ini dibangun di Semarang pada 1912, kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya.
(nnz)
Lihat Juga :