Ini Cara Mencegah dan Mengendalikan Penyebaran Malaria dari Guru Besar Esa Unggul
Selasa, 25 April 2023 - 21:24 WIB
loading...
A
A
A
Sedangkan siklus hidup plasmodium di dalam tubuh nyamuk dipelajari oleh Ross dan Binagmi pada tahun 1898 dan pada tahun 1900 berdasarkan hasil penelitiannya Patrick Manson menemukan bahwa nyamuk merupakan serangga yang dapat menularkan parasit sebagai vektornya.
Pada 1890, Giovanni Batista Grassi dan Raimondo Feletti, dua peneliti Italia yang pertama kali memberi nama dua parasit penyebab malaria pada manusia, yaitu Plasmodium vivax dan Plasmodium malariae.
"Kemudian pada tahun 1897, ilmuwan Amerika bernama William H. Welch memberi nama parasit penyebab malaria tertiana sebagai Plasmodium falciparum. Dan pada 1922, John William Watson Stephens menemukan spesies parasit malaria lainnya, yaitu Plasmodium ovale,” urainya.
Ada 5 jenis spesies Plasmodium yang dapat menimbulkan penyakit malaria pada manusia, yakni Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae, dan Plasmodium knowlesi. Dua spesies diantaranya yakni Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax merupakan spesies yang dominan.
Melansir laman https://www.cdc.gov/dpdx/malaria/index.html Prof. Maksum menguraikan bahwa pada prinsipnya siklus hidup parasit malaria melibatkan dua inang yaitu nyamuk dan manusia sebagai inangnya. Selama mengisap darah, nyamuk Anopheles spp. betina yang terinfeksi menginokulasi sporozoit ke manusia.
Sporozoit ini kemudian menginfeksi sel hati manusia dan matang menjadi skizon, yang pecah dan melepaskan merozoit. Sel parasit merozoit ini dapat dorman (hipnozoit) dapat bertahan di sel hati dan dapat menyebabkan kekambuhan dalam berminggu-minggu, atau bahkan bertahun-tahun kemudian.
Setelah replikasi awal ini di hati (skizogoni ekso-eritrositik), parasit menjalani multiplikasi aseksual dalam eritrosit (skizogoni eritrositik).
Selanjutnya merozoit menginfeksi sel darah merah. Beberapa merozoit berdiferensiasi menjadi tahap eritrositik seksual (gametosit). Gametosit, jantan (mikrogametosit) dan betina (makrogametosit) ini, saat nyamuk menghisap darah manusia, akan ditelan oleh nyamuk Anopheles spp.
Selanjutnya, perkembangbiakan parasit pada nyamuk dikenal dengan siklus sporogonik. Di dalam perut nyamuk, mikrogamet berkembang menjadi zigot. Zigot ini pada gilirannya menjadi motil dan memanjang (ookinetes) yang menyerang dinding usus nyamuk di mana mereka berkembang menjadi ookista.
Ookista tumbuh, pecah, dan melepaskan sporozoit, yang menuju ke kelenjar ludah nyamuk. Inokulasi sporozoit ke inang manusia dapat meneruskan siklus hidup malaria dengan menggigit inang manusia lainnya.
Multiplikasi parasit plasmodium pada fase siklus eritrositik ini meningkatkan jumlah parasit, sehingga terjadi parasitemia dalam darah manusia yang terinfeksi yang meningkat setiap kali terjadi lisis eritrosit dan ruptur skizon eritrosit yang melepaskan ribuan parasit dalam bentuk merozoit dan zat hasil metabolik ke sirkulasi darah.
Pada 1890, Giovanni Batista Grassi dan Raimondo Feletti, dua peneliti Italia yang pertama kali memberi nama dua parasit penyebab malaria pada manusia, yaitu Plasmodium vivax dan Plasmodium malariae.
"Kemudian pada tahun 1897, ilmuwan Amerika bernama William H. Welch memberi nama parasit penyebab malaria tertiana sebagai Plasmodium falciparum. Dan pada 1922, John William Watson Stephens menemukan spesies parasit malaria lainnya, yaitu Plasmodium ovale,” urainya.
Patofisiologi Malaria
Menjawab pertanyaan tentang patofisiologi penyakit malaria, Prof. Maksum menjelaskan bahwa pentingnya untuk memahami siklus hidup parasit Plasmodium malaria yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles sp. betina.Ada 5 jenis spesies Plasmodium yang dapat menimbulkan penyakit malaria pada manusia, yakni Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae, dan Plasmodium knowlesi. Dua spesies diantaranya yakni Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax merupakan spesies yang dominan.
Melansir laman https://www.cdc.gov/dpdx/malaria/index.html Prof. Maksum menguraikan bahwa pada prinsipnya siklus hidup parasit malaria melibatkan dua inang yaitu nyamuk dan manusia sebagai inangnya. Selama mengisap darah, nyamuk Anopheles spp. betina yang terinfeksi menginokulasi sporozoit ke manusia.
Sporozoit ini kemudian menginfeksi sel hati manusia dan matang menjadi skizon, yang pecah dan melepaskan merozoit. Sel parasit merozoit ini dapat dorman (hipnozoit) dapat bertahan di sel hati dan dapat menyebabkan kekambuhan dalam berminggu-minggu, atau bahkan bertahun-tahun kemudian.
Setelah replikasi awal ini di hati (skizogoni ekso-eritrositik), parasit menjalani multiplikasi aseksual dalam eritrosit (skizogoni eritrositik).
Selanjutnya merozoit menginfeksi sel darah merah. Beberapa merozoit berdiferensiasi menjadi tahap eritrositik seksual (gametosit). Gametosit, jantan (mikrogametosit) dan betina (makrogametosit) ini, saat nyamuk menghisap darah manusia, akan ditelan oleh nyamuk Anopheles spp.
Selanjutnya, perkembangbiakan parasit pada nyamuk dikenal dengan siklus sporogonik. Di dalam perut nyamuk, mikrogamet berkembang menjadi zigot. Zigot ini pada gilirannya menjadi motil dan memanjang (ookinetes) yang menyerang dinding usus nyamuk di mana mereka berkembang menjadi ookista.
Ookista tumbuh, pecah, dan melepaskan sporozoit, yang menuju ke kelenjar ludah nyamuk. Inokulasi sporozoit ke inang manusia dapat meneruskan siklus hidup malaria dengan menggigit inang manusia lainnya.
Multiplikasi parasit plasmodium pada fase siklus eritrositik ini meningkatkan jumlah parasit, sehingga terjadi parasitemia dalam darah manusia yang terinfeksi yang meningkat setiap kali terjadi lisis eritrosit dan ruptur skizon eritrosit yang melepaskan ribuan parasit dalam bentuk merozoit dan zat hasil metabolik ke sirkulasi darah.
Lihat Juga :