Tedi Priatna Beberkan Peluang dan Tantangan UIN SGD Bandung Menjadi PTKIN Badan Hukum
Selasa, 11 Juli 2023 - 12:25 WIB
loading...
A
A
A
Langkah ketiga, melakukan analisis kesiapan pengembangan link and match dengan dunia usaha dan dunia industri. Lebih lanjut lagi juga dengan mengembangkan Entrepreneur University. "Ini merupakan tempat tumbuh kembangnya kampus dengan visi kewirausahaan yang mengakar di seluruh civitas akademika," katanya.
Baca Juga: SCC dan Pusat Bisnis UIN SGD Bandung Teken Kerja Sama Bangun Aparkost
Tedi menambahkan, tantangan yang mungkin muncul bisa datang secara internal maupun eksternal. Secara internal, bilamana sosialisasi tidak dilakukan secara merata dan optimal, bukan tidak mungkin akan ada reaksi penolakan. Hal wajar dan perlu proses tersistematis untuk menyampaikan manfaat besar menjadi PTKIN BH.
"Tantangan lainnya adalah kesiapan internal. Misalnya, PTKIN BH menuntut inovasi layanan yang lebih bernilai manfaat dan memberikan dampak ekonomi kepada lembaga. Di sini pentingnya penguatan internal untuk memastikan semua peluang bisnis yang dapat dilakukan lembaga dapat dimaksimalkan," jelasnya.
Secara eksternal, dinamika lingkungan mikro maupun makro bukan tanpa risiko. Jika tidak dibaca dengan baik dan dijadikan peluang, tentu saja bisa berdampak buruk bagi lembaga. Inilah pentingnya kekuatan kemitraan strategis dengan institusi sejenis ataupun lembaga lain yang sama-sama bermanfaat untuk memajukan kampus.
Tentu saja, kata Tedi, tak ada perubahan tanpa risiko. Sejauh segala potensi risiko telah diukur dan dapat terkelola, maka transformasi menjadi PTKIN BH menjadi tahapan penting dalam perkembangan kemajuan kampus ini.
"Jadi secara bertahap, terencana dan terprogram, semuanya dipersiapkan dengan baik. Kita harus optimistis, bersiap, bergandengan tangan bersama, bekerja sama, dan sama-sama bekerja untuk kemajuan kampus tercinta. Bismillah," pungkasnya.
Baca Juga: SCC dan Pusat Bisnis UIN SGD Bandung Teken Kerja Sama Bangun Aparkost
Tedi menambahkan, tantangan yang mungkin muncul bisa datang secara internal maupun eksternal. Secara internal, bilamana sosialisasi tidak dilakukan secara merata dan optimal, bukan tidak mungkin akan ada reaksi penolakan. Hal wajar dan perlu proses tersistematis untuk menyampaikan manfaat besar menjadi PTKIN BH.
"Tantangan lainnya adalah kesiapan internal. Misalnya, PTKIN BH menuntut inovasi layanan yang lebih bernilai manfaat dan memberikan dampak ekonomi kepada lembaga. Di sini pentingnya penguatan internal untuk memastikan semua peluang bisnis yang dapat dilakukan lembaga dapat dimaksimalkan," jelasnya.
Secara eksternal, dinamika lingkungan mikro maupun makro bukan tanpa risiko. Jika tidak dibaca dengan baik dan dijadikan peluang, tentu saja bisa berdampak buruk bagi lembaga. Inilah pentingnya kekuatan kemitraan strategis dengan institusi sejenis ataupun lembaga lain yang sama-sama bermanfaat untuk memajukan kampus.
Tentu saja, kata Tedi, tak ada perubahan tanpa risiko. Sejauh segala potensi risiko telah diukur dan dapat terkelola, maka transformasi menjadi PTKIN BH menjadi tahapan penting dalam perkembangan kemajuan kampus ini.
"Jadi secara bertahap, terencana dan terprogram, semuanya dipersiapkan dengan baik. Kita harus optimistis, bersiap, bergandengan tangan bersama, bekerja sama, dan sama-sama bekerja untuk kemajuan kampus tercinta. Bismillah," pungkasnya.
(zik)
Lihat Juga :