Berkontribusi Besar di Dunia Akademis, Dosen Unusa Jadi Profesor Kehormatan Universitas di India
Rabu, 20 Desember 2023 - 06:41 WIB
loading...
A
A
A
Atas pengangkatan di perguruan tinggi itu, Syafiuddin berkewajiban untuk mengajar dan datang dua kali dalam setahun dan semua fasilitas disediakan oleh lembaga tersebut.
Fokusnya, mengembangkan penelitian dan inovasi di bidang material alam untuk aplikasinya di kesehatan dan lingkungan.
Sebagai seorang peneliti yang juga masuk dalam jajaran 2% scientists dunia dari Stanford University and Elsevier untuk ketiga kalinya (2021-2023), Syafiuddin mengungkapkan, pencapaiannya ini tidak lepas dari konsistensinya dalam melakukan penelitian, terutama dalam teknologi yang berasal dari bahan alam untuk masalah lingkungan.
Pria kelahiran 29 September 1988 ini menjelaskan tantangan menjadi dosen di luar negeri, terutama di kampus ternama. "Sangat sulit, khususnya diberikan gelar Distinguished Adjunct Professor. Hanya saintis yang diakui dunia saja biasanya yang diangkat," ujar Syafiuddin.
Menurutnya, pengajaran di luar negeri memerlukan dedikasi tinggi, dan kebanyakan yang mendapat kesempatan tersebut adalah mereka yang telah diakui secara global, seperti pemenang Nobel.
Meskipun menghadapi perbedaan budaya, Syafiuddin optimistis dapat mengatasi kendala bahasa karena kemampuan berbahasa Inggris mereka di atas rata-rata. "Mungkin hanya perbedaan budaya saja yang menjadi tantangan," tambahnya.
Berbagi tips untuk para dosen yang bercita-cita mengajar di luar negeri, Syafiuddin menekankan pentingnya fokus pada kualitas riset dan karya tanpa mengharapkan penghargaan. "Para peraih Nobel tidak pernah berharap diberikan Nobel karena mereka hanya melakukan riset dengan serius dan diuji oleh para saintis dari seluruh dunia," ungkapnya.
Fokusnya, mengembangkan penelitian dan inovasi di bidang material alam untuk aplikasinya di kesehatan dan lingkungan.
Sebagai seorang peneliti yang juga masuk dalam jajaran 2% scientists dunia dari Stanford University and Elsevier untuk ketiga kalinya (2021-2023), Syafiuddin mengungkapkan, pencapaiannya ini tidak lepas dari konsistensinya dalam melakukan penelitian, terutama dalam teknologi yang berasal dari bahan alam untuk masalah lingkungan.
Pria kelahiran 29 September 1988 ini menjelaskan tantangan menjadi dosen di luar negeri, terutama di kampus ternama. "Sangat sulit, khususnya diberikan gelar Distinguished Adjunct Professor. Hanya saintis yang diakui dunia saja biasanya yang diangkat," ujar Syafiuddin.
Menurutnya, pengajaran di luar negeri memerlukan dedikasi tinggi, dan kebanyakan yang mendapat kesempatan tersebut adalah mereka yang telah diakui secara global, seperti pemenang Nobel.
Meskipun menghadapi perbedaan budaya, Syafiuddin optimistis dapat mengatasi kendala bahasa karena kemampuan berbahasa Inggris mereka di atas rata-rata. "Mungkin hanya perbedaan budaya saja yang menjadi tantangan," tambahnya.
Berbagi tips untuk para dosen yang bercita-cita mengajar di luar negeri, Syafiuddin menekankan pentingnya fokus pada kualitas riset dan karya tanpa mengharapkan penghargaan. "Para peraih Nobel tidak pernah berharap diberikan Nobel karena mereka hanya melakukan riset dengan serius dan diuji oleh para saintis dari seluruh dunia," ungkapnya.
Lihat Juga :