Pentingnya Jurnalistik sebagai Metode Suarakan Kasus Konservasi Satwa Liar
Rabu, 03 Juli 2024 - 18:16 WIB
loading...
A
A
A
Selain Perang (OMSP), yakni membantu pemerintah dalam PAM Pelayaran dan Penerbangan terhadap pembajakan, perompakan, dan penyelundupan.TNI juga sudah melakukan sweeping satwa liar secara berkala lewat kegiatan yang dilaksanakan polisi militer.
Fakta terjadinya penangkapan satwa liar diungkapkan Polhut Muda BKSDA Maluku Kacuk Seto Purwantoro. Menurutnya, kepulauan Maluku merupakan salah satu tempat yang kerap menjadi lokasi transit penyelundupan satwa liar. Pihaknya telah melakukan penanganan terhadap 5.576 ekor satwa liar di Maluku sepanjang 2019 sampai Mei 2024, termasuk di dalamnya burung paruh bengkok.
“Jenis burung paruh bengkok yang paling banyak diburu untuk perdagangan ilegal adalah jenis kakatua koki (Cacatua galerita), kasturi ternate (Lorius garrulus), nuri bayan (Eclectus roratus), nuri maluku (Eos bornea), dan perkici pelangi (Trichoglossus haematodus). Adapun pasaran hewan tersebut tersebar di Makasar, Manado, Surabaya, Jakarta, dan Batam,” ujar Seto dalam keterangan resminya, Selasa (3/7/2024)
Sementara itu, National Technical Advisor for One Health and Emergency Response, FAO Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (FAO ECTAD) Indonesia Andri Jatikusumah mengungkapkan rusaknya konservasi satwa liar dapat menimbulkan penyakit yang berasal dari hewan kepada manusia (zoonosis).
“Zoonosis yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya, menjadi topik tak terpisahkan dalam konservasi satwa liar. One Health bisa menjadi jurus jitu pencegahan dan pengendalian zoonosis yang didasari oleh kerja sama multidisiplin ilmu dalam memecahkan masalah kesehatan global dengan pendekatan terpadu, seperti melibatkan sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan”, ujar Andri.
Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FISIP Universitas Pattimura (Unpatti) Paulus Koritelu mengatakan kegiatan Wildlife Journalism Competition 2024 menjadi permulaan hubungan kerja sama yang dibangun antara Unpad dan Unpatti.
“Kegiatan ini menjadi sangat strategis, saya sangat berharap ini menjadi bagian autokritik bagi kita semua yang seringkali tidak mempertimbangkan makhluk hidup lain yang juga berperan penting bagi hidup kita semua,” ujarnya.
Fakta terjadinya penangkapan satwa liar diungkapkan Polhut Muda BKSDA Maluku Kacuk Seto Purwantoro. Menurutnya, kepulauan Maluku merupakan salah satu tempat yang kerap menjadi lokasi transit penyelundupan satwa liar. Pihaknya telah melakukan penanganan terhadap 5.576 ekor satwa liar di Maluku sepanjang 2019 sampai Mei 2024, termasuk di dalamnya burung paruh bengkok.
“Jenis burung paruh bengkok yang paling banyak diburu untuk perdagangan ilegal adalah jenis kakatua koki (Cacatua galerita), kasturi ternate (Lorius garrulus), nuri bayan (Eclectus roratus), nuri maluku (Eos bornea), dan perkici pelangi (Trichoglossus haematodus). Adapun pasaran hewan tersebut tersebar di Makasar, Manado, Surabaya, Jakarta, dan Batam,” ujar Seto dalam keterangan resminya, Selasa (3/7/2024)
Sementara itu, National Technical Advisor for One Health and Emergency Response, FAO Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (FAO ECTAD) Indonesia Andri Jatikusumah mengungkapkan rusaknya konservasi satwa liar dapat menimbulkan penyakit yang berasal dari hewan kepada manusia (zoonosis).
“Zoonosis yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya, menjadi topik tak terpisahkan dalam konservasi satwa liar. One Health bisa menjadi jurus jitu pencegahan dan pengendalian zoonosis yang didasari oleh kerja sama multidisiplin ilmu dalam memecahkan masalah kesehatan global dengan pendekatan terpadu, seperti melibatkan sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan”, ujar Andri.
Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FISIP Universitas Pattimura (Unpatti) Paulus Koritelu mengatakan kegiatan Wildlife Journalism Competition 2024 menjadi permulaan hubungan kerja sama yang dibangun antara Unpad dan Unpatti.
“Kegiatan ini menjadi sangat strategis, saya sangat berharap ini menjadi bagian autokritik bagi kita semua yang seringkali tidak mempertimbangkan makhluk hidup lain yang juga berperan penting bagi hidup kita semua,” ujarnya.
Lihat Juga :